Duku [Bagian Terakhir]
Cerita Pendek K. Usman
(Bagian sebelumnya)
Selanjutnya para sepupuhku rebutan naik pohon yang tingginya 11 sampai 20 meter itu.pohon-pohon duku memang menyulai daerah yang lembab di atas ketinggian sekitar 650 meter di atas permukaan laut.
Biasanya, usai panen dilanjutkan dengan makan bersama lesehan di tikar. Sekitar tikar ditetesi kakek dengan air tembakau supaya pacat, si lintah darat tidak mengganggu. Di dearah lembab memang banyak sekali pacat. Gigitannya menimbulkan rasa gatal. Pacat dengan rakus mengisap darah dengan moncongnya yang lunak.
Kakekku dari pihak ayah itu mewariskan sistem tentang keadilan dalam keluarga. Usai panen, tiap kepala keluarga mendapat jatah sama besarnya untuk dibawa ke rumah masing-masing. Jadi, tidak seperti orang lain, anak perempuan mendapatkan sebagian, anak laki-laki dua bagian. Bagi Kakekku, kasih sayang wajib diberikan sama besarnya kepada setiap anak, termasuk pembagian duku. Tanpa banyak bicara, tapi dengan keteladanan. Kakekku mewariskan sistem warisan dalam keluarganya, atau keturunannya.
Setelah kakek berpulang, disusul nenek, sistem itu diubah Paman Sub, Si Bungsu yang pemalas, nakal, dan rajin menikah.
Berulang kebun-kebun duku warisan Kakek-Nenek dia ijonkan kepada pedagang duku dari kota propinsi. Duku masih hijau sudah dijual. Hasil penjualannya ditilep Paman Sub. Para kakak memusuhi sampai mengutuknya. Tapi, ayah, selaku Si sulung tidak ikut-ikutan adik-adiknya mengutuk. Entah karena kutukan, entah memang nasib Paman Sub buruk, dia terserang bisul di pinggang kanan. Bisul itu memcah dan lama-lama menjadi lubang dalam yang mengeluarkan nanah. Dasar Paman Sub malas berobat, disamping ketiadaan biaya karena dia miskin di dusun, beliau meningal dalam usia muda, meninggalkan seorang anak perempuan dan dua anak laki-laki.
Apa yang ditinggalkan Paman Sub? Antara lain kedua kebun duku, yang di Laham, dan yang di seberang sugai Lematang telah dia jual. Para ahli waris Kakek-Nenek ribut. Penengah sudah tidak ada, setelah ayah berpulang dalam usia 80 tahun.
”Hai, mikirin apa, Bung Gindo?!” teriakan Mimin membuyarkan kenanganku tentang dua kebun duku warisan kakekku di dusun kelahiran.
Mimin menarik-narik jaket kulit butut kesayanganku. Jaket kulitku itu dilemparkannya ke keranjang sampah, seakan sama sialnya dengan duku Palembang palsu di keranjang sampah itu. ”Mana duku Palembang yang diinginka anak kita, hah?” lanjutnya dengan suara melengking. Tak kudengar suaranya merdu bila menyanyikan tembang-tembang Sunda.
”Masih menunggu kabar dari banyak orang,” aku tergagap menjawab. ”Usahaku sudah maksimum, Miminku cantik.” aku mencoba merayu. Tap dia merengut dan kembali ke ranjang.
Sampai hari kelahiran anak pertamaku, bayi perempuan yang kami beri nama Putri, gagal total aku mendapatkan duku Palembang. Gemetar tubuhku menunggu di luar kamar persalinan. Begitu dokter Han muncul dengan senyum ramanya, segera kutanya, apakah anak pertamaku ngiler?
”Nggak tuh,” jawab dokter Han sambil mengeleng.
Alhamdulillah, aku mengucap dalam hati, dan terus berdoa, semoga sampai Putri remaja, dan tua tidak mengeluarkan iler, sepert yang kutakutkan selama ini.[selesai]
[Cerpen ”Duku” karya ”Ayah” K. Usman ini diambil dari Kumpulan Cerpen K. Usman: Setelah Musim Jamur. Diterbitkan oleh Yayasan Romansa Jakarta (Cetakan pertama, 2001). Cerpen ini sendiri pernah dimuat di Harian Kompas, 20 Agustus 2000)
Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts
Sunday, August 26, 2007
Sunday, August 5, 2007
Duku [Bagian 4]
Duku [Bagian 4]
Cerita Pendek K. Usman
Sebelumnya
Alhamdulillah, walaupun lagi ngambek, Mimin mau salat Subuh berjamaah denganku. Ia menciumku seusai kami berdoa khusyuk. Susu hangat dan roti selai nanas disiapkannya di meja makan. Setelah itu, dia naik ke ranjang dan tersedu-sedu. Aku jadi serba salah.
Mumpung masih pagi, harga pulsa belum mahal, kuhubungi saudara dan kawan-kawan dekat. Terakhir kutelepon Bunda di Prabumulih. Aku minta dicarikan duku Palembang. Kalau ada buah duku salah musim, atau buah sela, tolong segera kirim dengan titipan kilat ke Jakarta. Semua orang yang kutelepon tertawa terbahak-bahak, mengejekku.
”Mana ada duku Palembang di musim begini, Bung Gindo, ha ha ha,” kata Ir. Tama sahabatku yang bertugas di kabupaten Muara Enim, salah satu daerah yang banyak memiliki kebun duku rakyat.
Rakhmani, S.H., seorang hakim di Palembang, teman dekatnya di SMA dulu, yang seperti saudara setelah dia menikah dengan seorang perwira menengah TNI Angkatan Laut, pun terkekeh-kekeh. Mas Arifin, suaminya, ikut ngomong, dan terbahak-bahak. ”Dik Gindo lagi mimpi setelah usai salat Subuh, yo?” tanya Mas Arifin. Nggak ada duku Palembang. Musim orang lomba ngomong kan sekarang? Bukan musim duku, Dik.”
Adik-adikku di Prabumulih, salah satu pasar di kota tambang minyak, juga menyerah. Mereka bilang, buah salah musim pun tak tampak di pasar. Kota mana lagi yang harus kuacak-acak lewat telepon di pagi begini? Halimi di Martapura, wong suku Komering, staf hubungan masyarakat kukontak. Dia adalah seniorku waktu kuliah di Perguruan Tingi Publisistik. Abang Hal ini sudah seperti kakak bagiku. Gila! Dia lagi ’bobo-bobo pagi’ dengan Kak Syamsiah seusai salat Subuh.
”Kau ini ada-ada saja, Dik Gindo, ha ha ha, tahu nggak abangmu lagi subuk dengan Kakakmu. Ada apa? Duku Palembang? Istrimu pasti lagi ngidam, ya? Benar. Martapura memang ‘lumbung’ duku kalau lagi musim, dik. Tapi, sekarang kosong. Tapi, nanti aku cari, ya. Salam dulu buat binimu, tu.”
“Maafkan aku, Bang. Sampaikan pada Kak Syam, teruskan ’bobo-bobo pagi—nya,” kataku sambil menahan tawa. Tawa suami-istri itu sempat kudengar di telepon.
Terakhir kutelepon Bunda. Beliau masih berzikir di atas sajadah sejak usai shalat Subuh. Lembut dan membelai suaranya. Hati jadi sejuk. Sejak Ayah berpulang lima tahun silam, Bunda makin khusuk shalat, berdoa, dan zikir.
”Sayangku, Sulungku,” sambutnya, ”di mana Bunda harus mencari obat ngiler itu? Lagi tidak musim duku Palembang sekarang, Nak. Ya, Bunda akan cari sambil mengerahkan adik-adik, ipar-ipar, dan kemenakanmu yang kini sudah 35 jumlahnya itu. Bagaimana Mimin, menantuku? Bunda doakan, dia sehat-sehat selalu, ya?”
Bunda mencemaskan bila cucu pertama dari si sulungnya ngiler. Kata Bunda, ngiler sampai dewasa termasuk aib bagi keluarga, bukti ketidakmampuan orang tua, atau semacam kemalasan berusaha. Aib bagi keluarga? Aku bertanya setelah meletakkan gagang telepon. Kubayangkan putra-atau putriku ngiler sampai remaja. Kemana-mana dia membawa tisu atau saputangan untuk menadahi ilernya yang meleleh ke dagu. Benar juga kata Bunda, kalau betul-betul itu terjadi. Itu aib bagi keluarga. Tapi kalau duku Palembang memang sedang tidak musim, mau apa?
Semasa aku kecil, bila musim duku di kebun Laham, atau di seberang sungai Lematang, Kakek Muk memanggil anak-cucu untuk panen duku bersama. Pernah sekali, aku naik sebatang duku. Tiba di atas, kuguncang sebuah dahan yang lebat duku berwarna kuning keabuan. Maka runtuhlah ratusan duku. Berdebuk-debuk bunyi di atas daun-daun yang membusuk dan lebat karena lamanya. Orang tuaku, kakek, nenek, paman, bibi, semua sepupuhku heboh. Mereka bilang, cara panen duku seperti yang kulakukan itu salah besar. Buah duku akan pecah atau memar. Lalu, Paman Sub, anak kakek yang bungsu memberi contoh. Ia naik sambil membawa karung goni dan keranjang rotan yang diberi tali panjang. Setelah kedua tempat itui penuh oleh duku, dia turunkan perlahan-lahan disambut riuh-rendah anak-anak.
Cerita Pendek K. Usman
Sebelumnya
Alhamdulillah, walaupun lagi ngambek, Mimin mau salat Subuh berjamaah denganku. Ia menciumku seusai kami berdoa khusyuk. Susu hangat dan roti selai nanas disiapkannya di meja makan. Setelah itu, dia naik ke ranjang dan tersedu-sedu. Aku jadi serba salah.
Mumpung masih pagi, harga pulsa belum mahal, kuhubungi saudara dan kawan-kawan dekat. Terakhir kutelepon Bunda di Prabumulih. Aku minta dicarikan duku Palembang. Kalau ada buah duku salah musim, atau buah sela, tolong segera kirim dengan titipan kilat ke Jakarta. Semua orang yang kutelepon tertawa terbahak-bahak, mengejekku.
”Mana ada duku Palembang di musim begini, Bung Gindo, ha ha ha,” kata Ir. Tama sahabatku yang bertugas di kabupaten Muara Enim, salah satu daerah yang banyak memiliki kebun duku rakyat.
Rakhmani, S.H., seorang hakim di Palembang, teman dekatnya di SMA dulu, yang seperti saudara setelah dia menikah dengan seorang perwira menengah TNI Angkatan Laut, pun terkekeh-kekeh. Mas Arifin, suaminya, ikut ngomong, dan terbahak-bahak. ”Dik Gindo lagi mimpi setelah usai salat Subuh, yo?” tanya Mas Arifin. Nggak ada duku Palembang. Musim orang lomba ngomong kan sekarang? Bukan musim duku, Dik.”
Adik-adikku di Prabumulih, salah satu pasar di kota tambang minyak, juga menyerah. Mereka bilang, buah salah musim pun tak tampak di pasar. Kota mana lagi yang harus kuacak-acak lewat telepon di pagi begini? Halimi di Martapura, wong suku Komering, staf hubungan masyarakat kukontak. Dia adalah seniorku waktu kuliah di Perguruan Tingi Publisistik. Abang Hal ini sudah seperti kakak bagiku. Gila! Dia lagi ’bobo-bobo pagi’ dengan Kak Syamsiah seusai salat Subuh.
”Kau ini ada-ada saja, Dik Gindo, ha ha ha, tahu nggak abangmu lagi subuk dengan Kakakmu. Ada apa? Duku Palembang? Istrimu pasti lagi ngidam, ya? Benar. Martapura memang ‘lumbung’ duku kalau lagi musim, dik. Tapi, sekarang kosong. Tapi, nanti aku cari, ya. Salam dulu buat binimu, tu.”
“Maafkan aku, Bang. Sampaikan pada Kak Syam, teruskan ’bobo-bobo pagi—nya,” kataku sambil menahan tawa. Tawa suami-istri itu sempat kudengar di telepon.
Terakhir kutelepon Bunda. Beliau masih berzikir di atas sajadah sejak usai shalat Subuh. Lembut dan membelai suaranya. Hati jadi sejuk. Sejak Ayah berpulang lima tahun silam, Bunda makin khusuk shalat, berdoa, dan zikir.
”Sayangku, Sulungku,” sambutnya, ”di mana Bunda harus mencari obat ngiler itu? Lagi tidak musim duku Palembang sekarang, Nak. Ya, Bunda akan cari sambil mengerahkan adik-adik, ipar-ipar, dan kemenakanmu yang kini sudah 35 jumlahnya itu. Bagaimana Mimin, menantuku? Bunda doakan, dia sehat-sehat selalu, ya?”
Bunda mencemaskan bila cucu pertama dari si sulungnya ngiler. Kata Bunda, ngiler sampai dewasa termasuk aib bagi keluarga, bukti ketidakmampuan orang tua, atau semacam kemalasan berusaha. Aib bagi keluarga? Aku bertanya setelah meletakkan gagang telepon. Kubayangkan putra-atau putriku ngiler sampai remaja. Kemana-mana dia membawa tisu atau saputangan untuk menadahi ilernya yang meleleh ke dagu. Benar juga kata Bunda, kalau betul-betul itu terjadi. Itu aib bagi keluarga. Tapi kalau duku Palembang memang sedang tidak musim, mau apa?
Semasa aku kecil, bila musim duku di kebun Laham, atau di seberang sungai Lematang, Kakek Muk memanggil anak-cucu untuk panen duku bersama. Pernah sekali, aku naik sebatang duku. Tiba di atas, kuguncang sebuah dahan yang lebat duku berwarna kuning keabuan. Maka runtuhlah ratusan duku. Berdebuk-debuk bunyi di atas daun-daun yang membusuk dan lebat karena lamanya. Orang tuaku, kakek, nenek, paman, bibi, semua sepupuhku heboh. Mereka bilang, cara panen duku seperti yang kulakukan itu salah besar. Buah duku akan pecah atau memar. Lalu, Paman Sub, anak kakek yang bungsu memberi contoh. Ia naik sambil membawa karung goni dan keranjang rotan yang diberi tali panjang. Setelah kedua tempat itui penuh oleh duku, dia turunkan perlahan-lahan disambut riuh-rendah anak-anak.
Friday, July 6, 2007
Duku [bagian 3]
Duku [bag. 3]
Cerita Pendek K. Usman
sebelumnya...
Di pasar-pasar tradisional terdekat, ada tiga yang kudatangi, tidak kutemukan duku. Aku tancap gas ke pasar swalayan yang buka 24 jam. Kudapati satpam terkantuk-kantuk. Kasir-kasir berwajah pucat layu, walaupun sudah berdandan rapi.
nggak ada duku di sini,” kataku setelah mutar-mutar di tempat buah-buahan lokal.”
”Lagi belum musim, Om” ucap seorang kasir sambil mencoba menyegar-nyegarkan wajahnya.
Pukul 03.10 aku meluncur ke Pasar Induk Kramat Jati, kawasan Jakarta Timur. Di sana segala ada. Di pasar itu grosiran dan eceran dilayani sepanjang hari. Seperti bermimpi, kutemukan setumpuk duku, masih agak hijau. Benar-benar setumpuk duku. Entah dari mana asalnya. Kuborong semua yang tersedia, dua kilo gram lebih sedikit. Pedagang itu minta sepuluh ribu rupiah. Langsung kubayar kontan. Setelah itu, aku meluncur dengan kecepatan tinggi, menembus kabut pagi yang dingin menuju rumah. Rasa bangga seorang calon ayah berkobar di dadaku.
Tiba di rumah, kusodorkan kantong plastik hitam yang berisi duku dua kilo gram lebih kepada Mimin. Antusias dia menyambut hasil perburuanku dan berlari ke ruang makan, tempat untk mulai makan duku.
”ah, masam, sepat, ini buka duku Palembang, Bung!” teriaknya. ”Ini duku Condet!” Sambil berkata duku yang masih hijau itu dibuangnya ke tempat sampah. Bruuuk!
”Masya Allah!” aku mengucap sambil mengurut dada.
Mimin mengatakan, lidahnya tak dapat dikibuli. Ia berkata sambil mengulurkan lidah lancipnya.
”Tega kau membohongi anakmu. Masa’ berpura-pura kepada buah cinta kita. Mencontoh siapa kau ini, sih?! Kau simpan dimana hati nuranimu?” Merepet suaranya seperti tembakan senapan otomatis.
Terasa letihku. Setela membuka jaket kulit bututku, aky tertunduk di dekat meja makan. Masih kurasakan dinginnya embun di wajahku. Tak kurasakan dinginnya embun di wajahku. Tak berharga jerih payahku. Padahal, semula Mimin tidak menyebut, anaknya minta duku alembang. Aku merasa sebagai si bersalah.
Saat Mimin membanting pintu danm masuk kamar, set, terasa sembilu menyayat hatiku. Ternyata tidak mudah menjadi seorang ayah, pikirkus. Soal sepeleh jangan dikira tidak memusingkan kepala. Aku teringat cerita Mas Zakaria, manajer personalia di kantorku. Ketika ngidam pertama, istrinya minta gigi buaya. Dia panik. Saudara-saudara dan relasi dia hubungi. Pergilah dia ke restoran khusus di kawasan Mangga Dua, akarta Kota. Di sana dijual sate ular, kadal, kelinci, dan daging buaya. Dengan harga sangat mahal dibelinya sebuah gigi buaya. Istrinya bahagia sekali. Dia merasa pahlawa bagi istri dan anak pertamanya. Sedang aku? Untuk sementara gagal.
Bersambung...
Cerita Pendek K. Usman
sebelumnya...
Di pasar-pasar tradisional terdekat, ada tiga yang kudatangi, tidak kutemukan duku. Aku tancap gas ke pasar swalayan yang buka 24 jam. Kudapati satpam terkantuk-kantuk. Kasir-kasir berwajah pucat layu, walaupun sudah berdandan rapi.
nggak ada duku di sini,” kataku setelah mutar-mutar di tempat buah-buahan lokal.”
”Lagi belum musim, Om” ucap seorang kasir sambil mencoba menyegar-nyegarkan wajahnya.
Pukul 03.10 aku meluncur ke Pasar Induk Kramat Jati, kawasan Jakarta Timur. Di sana segala ada. Di pasar itu grosiran dan eceran dilayani sepanjang hari. Seperti bermimpi, kutemukan setumpuk duku, masih agak hijau. Benar-benar setumpuk duku. Entah dari mana asalnya. Kuborong semua yang tersedia, dua kilo gram lebih sedikit. Pedagang itu minta sepuluh ribu rupiah. Langsung kubayar kontan. Setelah itu, aku meluncur dengan kecepatan tinggi, menembus kabut pagi yang dingin menuju rumah. Rasa bangga seorang calon ayah berkobar di dadaku.
Tiba di rumah, kusodorkan kantong plastik hitam yang berisi duku dua kilo gram lebih kepada Mimin. Antusias dia menyambut hasil perburuanku dan berlari ke ruang makan, tempat untk mulai makan duku.
”ah, masam, sepat, ini buka duku Palembang, Bung!” teriaknya. ”Ini duku Condet!” Sambil berkata duku yang masih hijau itu dibuangnya ke tempat sampah. Bruuuk!
”Masya Allah!” aku mengucap sambil mengurut dada.
Mimin mengatakan, lidahnya tak dapat dikibuli. Ia berkata sambil mengulurkan lidah lancipnya.
”Tega kau membohongi anakmu. Masa’ berpura-pura kepada buah cinta kita. Mencontoh siapa kau ini, sih?! Kau simpan dimana hati nuranimu?” Merepet suaranya seperti tembakan senapan otomatis.
Terasa letihku. Setela membuka jaket kulit bututku, aky tertunduk di dekat meja makan. Masih kurasakan dinginnya embun di wajahku. Tak kurasakan dinginnya embun di wajahku. Tak berharga jerih payahku. Padahal, semula Mimin tidak menyebut, anaknya minta duku alembang. Aku merasa sebagai si bersalah.
Saat Mimin membanting pintu danm masuk kamar, set, terasa sembilu menyayat hatiku. Ternyata tidak mudah menjadi seorang ayah, pikirkus. Soal sepeleh jangan dikira tidak memusingkan kepala. Aku teringat cerita Mas Zakaria, manajer personalia di kantorku. Ketika ngidam pertama, istrinya minta gigi buaya. Dia panik. Saudara-saudara dan relasi dia hubungi. Pergilah dia ke restoran khusus di kawasan Mangga Dua, akarta Kota. Di sana dijual sate ular, kadal, kelinci, dan daging buaya. Dengan harga sangat mahal dibelinya sebuah gigi buaya. Istrinya bahagia sekali. Dia merasa pahlawa bagi istri dan anak pertamanya. Sedang aku? Untuk sementara gagal.
Bersambung...
Monday, June 25, 2007
Duku [bagian 2]
Duku [Bagian 2]
Cerita Pendek K. Usman
sebelumnya...
”Tapi, ng ng ng, kau tidak sayang pada anak kita. Mencari duku saja kau tidak mau. Belakangan kau sengaja pulang telat dari kantor, sampai aku jenuh sendiran di rumah, setelah Mbok Nah pulang ke rumahnya lepas magrib. Mana buktinya, kau menyayangi anak pertama kita?”
Kupikir, tidak perlulah melayani perempuan yang sedang sensitif. Lebih baik diam, atau keluar cari duku. Bagi Mimin saat ini, cari duku adalah bukti kasihku, sayangku, dan cintaku pada jabang bayi dalam rahimnya. Kini Mimin tidak menggnakan logika, atau akal sehat. Mungkin juga bawaan bayi. Bawaan bayi itu mungkin juga suatu mitos. Biarlah. Yang penting, dia menuntut bukti tanda kasih sayangku pada anak kami. Kuarih jaket kulit di gantungan. Kunci motor kukeluarkan dari laci lemari pakaianku.
”mau ke mana? Kabur, ya?” teriaknya pilu. ”Akan kau tinggalkan aku sendirian? Kau sudah bosan karena aku tidak cantik lagi? Karena aku tidak langsing lagi? Begitu?”
”Katamu minta duku?” jawabku kalem.
”Bukan aku yang minta, tapi anak kita, Bung Gindo!”
”Ya, anak kita. Aku akan keluar, cari duku.”
”Terpaksa atau ikhlas?”
”Mimin, masa, sih, terpaksa. Ada-ada saja kau ini. Ya, ikhlas, dong.”
Ketika motor sudah di halaman rumah, mesinnya kuhidupkan, agar panas. Kutanyakan pada Mimin, apakah pada saat ini sudah musim duku? Sebagai insinyur pertanian, dia mengerti benar kapan musim duku, atau musim buah lainnya.
”Duku itu berbunga antara bulan Desember sampai Januari,” jawabnya dengan pikiran jernih. ”Buah duku bermasakan pada bulan-bulan Maret, April, sampai Mei,” lanjutnya dengan pikiran cemerlang. Pantaslah dia lolos dulu dengan cumlaude.
”Sekarang apa sudah musim?” tanyaku.
Dia menggeleng pasti.
”Apa tidak mubazir kepergianku saat ini keliling kota mencari duku kalau memang tak musim?”
Wajahnya merengut lagi. Sensitifnya kambuh.
”Belakangan ini sering terjadi salah musim,” kilahnya. ”Mungkin karena dunia makin tua. Itulah sebabnya, pohon-pohon pun berbuah salah musim, yang lazim disebut buah sela. Hal itu akhir-akhir ini sering terjadi. Ramalan cuaca dari lembaga meteorologi dan geofisika pun sering meleset,” lanjutnya. ”Jadi, bukan tidak mungkin, di saat salah musim, duku, atau pohon-pohon buah-buahan lain berbuah.” Argumentasinya memang masuk akal. ”Kalau begitu, aku jalan, ya?”
”Ya, Sayang. Kancingkan dulu, dong, jaket kulitmu!” Mimin maju dan memasangka resliting jaket kulit bututku.
Begitu meninggalkan rumah-kecil-mungil kami di kawasan perumahan yang disebut ’kredit perumahan rakyat’ alias KPR, aku memeras otak. Kemana perburuan duku paling efisien di pagi buta begini?
Aku tahu dari pengalaman waktu muda, saat senang begadang sampai pagi, pukul tiga pasar-pasar tradisional sudah ramai. M,obil-mobil bermuatan sayuran dan buah-buahan datang dari berbagai penjuru, menyerbu pasar tradisional. Aku pun tahu, ada pasar swalayan yang buka 24 jam di kotaku. Ke sanalah aku memulai perburuan.
Bersambung...
Cerita Pendek K. Usman
sebelumnya...
”Tapi, ng ng ng, kau tidak sayang pada anak kita. Mencari duku saja kau tidak mau. Belakangan kau sengaja pulang telat dari kantor, sampai aku jenuh sendiran di rumah, setelah Mbok Nah pulang ke rumahnya lepas magrib. Mana buktinya, kau menyayangi anak pertama kita?”
Kupikir, tidak perlulah melayani perempuan yang sedang sensitif. Lebih baik diam, atau keluar cari duku. Bagi Mimin saat ini, cari duku adalah bukti kasihku, sayangku, dan cintaku pada jabang bayi dalam rahimnya. Kini Mimin tidak menggnakan logika, atau akal sehat. Mungkin juga bawaan bayi. Bawaan bayi itu mungkin juga suatu mitos. Biarlah. Yang penting, dia menuntut bukti tanda kasih sayangku pada anak kami. Kuarih jaket kulit di gantungan. Kunci motor kukeluarkan dari laci lemari pakaianku.
”mau ke mana? Kabur, ya?” teriaknya pilu. ”Akan kau tinggalkan aku sendirian? Kau sudah bosan karena aku tidak cantik lagi? Karena aku tidak langsing lagi? Begitu?”
”Katamu minta duku?” jawabku kalem.
”Bukan aku yang minta, tapi anak kita, Bung Gindo!”
”Ya, anak kita. Aku akan keluar, cari duku.”
”Terpaksa atau ikhlas?”
”Mimin, masa, sih, terpaksa. Ada-ada saja kau ini. Ya, ikhlas, dong.”
Ketika motor sudah di halaman rumah, mesinnya kuhidupkan, agar panas. Kutanyakan pada Mimin, apakah pada saat ini sudah musim duku? Sebagai insinyur pertanian, dia mengerti benar kapan musim duku, atau musim buah lainnya.
”Duku itu berbunga antara bulan Desember sampai Januari,” jawabnya dengan pikiran jernih. ”Buah duku bermasakan pada bulan-bulan Maret, April, sampai Mei,” lanjutnya dengan pikiran cemerlang. Pantaslah dia lolos dulu dengan cumlaude.
”Sekarang apa sudah musim?” tanyaku.
Dia menggeleng pasti.
”Apa tidak mubazir kepergianku saat ini keliling kota mencari duku kalau memang tak musim?”
Wajahnya merengut lagi. Sensitifnya kambuh.
”Belakangan ini sering terjadi salah musim,” kilahnya. ”Mungkin karena dunia makin tua. Itulah sebabnya, pohon-pohon pun berbuah salah musim, yang lazim disebut buah sela. Hal itu akhir-akhir ini sering terjadi. Ramalan cuaca dari lembaga meteorologi dan geofisika pun sering meleset,” lanjutnya. ”Jadi, bukan tidak mungkin, di saat salah musim, duku, atau pohon-pohon buah-buahan lain berbuah.” Argumentasinya memang masuk akal. ”Kalau begitu, aku jalan, ya?”
”Ya, Sayang. Kancingkan dulu, dong, jaket kulitmu!” Mimin maju dan memasangka resliting jaket kulit bututku.
Begitu meninggalkan rumah-kecil-mungil kami di kawasan perumahan yang disebut ’kredit perumahan rakyat’ alias KPR, aku memeras otak. Kemana perburuan duku paling efisien di pagi buta begini?
Aku tahu dari pengalaman waktu muda, saat senang begadang sampai pagi, pukul tiga pasar-pasar tradisional sudah ramai. M,obil-mobil bermuatan sayuran dan buah-buahan datang dari berbagai penjuru, menyerbu pasar tradisional. Aku pun tahu, ada pasar swalayan yang buka 24 jam di kotaku. Ke sanalah aku memulai perburuan.
Bersambung...
Friday, June 22, 2007
Duku
Duku [bag. 1]
Cerita Pendek K. Usman
Tengah malam, aku terbangun oleh sentuhan jari-jemari halus membelai pipi kananku. Refleks aku terduduk. Wajah cantik itu tersenyum manis di sebelah kiriku.
”Ada apa tengah malam begini, hem,” tanyaku.
”Sayang, anak kita minta duku,” jawabnya manja sambil merangkul leherku.
”Duku? Tengah malam begini?”
”Ya, sayang. Anak pertama kita yang meminta, bukan aku.” Mimin membelai perutnya yang makin membesar. Tangan kananku ditariknya, didekatkan ke perutnya. Perutnya hangat di telapak tangan kanankuku. ”Sore tadi kan dokter Han bilang, kandunganku sudah jalan tiga bulan,’ katanya tetap manja dan tetap tersenyum.
Kulihat jam dinding. Baru pukul 02.15. Kugosok-gosok mata. Sebab aku ragu, kok angka dua itu mirip angka lima. Ternyata, mataku masih sehat. Memang demikianlah adanya. Jam dinding itupun berjalan normal-normal saja.
”Mimin, lihat itu!” aku menunjuk ke arah jam dinding.
”Lho, apa urusannya dengan waktu kalau memang kau kasih pada anakmu?” Suaranya ketus. ”Delapan tahun kau dan aku menunggu kehadirannya, Sayang?”
”Ya, delapan tahun. Kau benar. Tapi sekarang tengah malam. Mana ada penjual duku menjajakan dagangannya waktu seperti ini!”
”Cari, dong!”
”Semua pasar tradisional tutup. Pasar swalayan apalagi. Penjaja buah keliling, pada saat begini sedang kelonan di rumah masing-masing.”
”Kok, kamu tahu pedagang keliling kelonan?” tukas Mimin kritis.
”Habis? Tengah malam begini enaknya kelonan, bukan?”
”Maumu, huh!” Mimin mencibir. Dalam keadaan begitu, sejak dia masih gadis menggemaskan. Biasanya kupagut dagunya, dan bibir tipis kukulum-kulum sampai dia menggelinjang.
Tiba-tiba Mimin merebahkan tubuh ke ranjang dan membelakangiku. Tak lama kemudian terdengar sedu-sedannya. Ia mengatakan, ”Kau tidak sayang pada anak pertama kita. Memang aku yang kerja keras mencari spesialis kandungan, shalat tahajud, dan berdo’a untuknya.”
Tangis Miminmakin menjadi-jadi. Gerutunya merembet-rembet pada orangtuaku, adik-adikku, paman, dan bibiku, yang meragukan kesuburan kandungannya. Katanya, keluargaku kejam. Masa baru lima tahun dia jadi istriku, begitu saja memvonis dia mandul. Ceraikan saja perempuan mandul itu. Cari perawan yang subur.
”Jangan menceracau begitu, dong, Mimin,” bisikku. ”Yang sudah, yang sudah, ya sudahlah! Maafkanlah mereka. Yang penting, aku kan tetap tresno padamu. Aku Kukuh, bukan.”
Bersambung...
Cerita Pendek K. Usman
Tengah malam, aku terbangun oleh sentuhan jari-jemari halus membelai pipi kananku. Refleks aku terduduk. Wajah cantik itu tersenyum manis di sebelah kiriku.
”Ada apa tengah malam begini, hem,” tanyaku.
”Sayang, anak kita minta duku,” jawabnya manja sambil merangkul leherku.
”Duku? Tengah malam begini?”
”Ya, sayang. Anak pertama kita yang meminta, bukan aku.” Mimin membelai perutnya yang makin membesar. Tangan kananku ditariknya, didekatkan ke perutnya. Perutnya hangat di telapak tangan kanankuku. ”Sore tadi kan dokter Han bilang, kandunganku sudah jalan tiga bulan,’ katanya tetap manja dan tetap tersenyum.
Kulihat jam dinding. Baru pukul 02.15. Kugosok-gosok mata. Sebab aku ragu, kok angka dua itu mirip angka lima. Ternyata, mataku masih sehat. Memang demikianlah adanya. Jam dinding itupun berjalan normal-normal saja.
”Mimin, lihat itu!” aku menunjuk ke arah jam dinding.
”Lho, apa urusannya dengan waktu kalau memang kau kasih pada anakmu?” Suaranya ketus. ”Delapan tahun kau dan aku menunggu kehadirannya, Sayang?”
”Ya, delapan tahun. Kau benar. Tapi sekarang tengah malam. Mana ada penjual duku menjajakan dagangannya waktu seperti ini!”
”Cari, dong!”
”Semua pasar tradisional tutup. Pasar swalayan apalagi. Penjaja buah keliling, pada saat begini sedang kelonan di rumah masing-masing.”
”Kok, kamu tahu pedagang keliling kelonan?” tukas Mimin kritis.
”Habis? Tengah malam begini enaknya kelonan, bukan?”
”Maumu, huh!” Mimin mencibir. Dalam keadaan begitu, sejak dia masih gadis menggemaskan. Biasanya kupagut dagunya, dan bibir tipis kukulum-kulum sampai dia menggelinjang.
Tiba-tiba Mimin merebahkan tubuh ke ranjang dan membelakangiku. Tak lama kemudian terdengar sedu-sedannya. Ia mengatakan, ”Kau tidak sayang pada anak pertama kita. Memang aku yang kerja keras mencari spesialis kandungan, shalat tahajud, dan berdo’a untuknya.”
Tangis Miminmakin menjadi-jadi. Gerutunya merembet-rembet pada orangtuaku, adik-adikku, paman, dan bibiku, yang meragukan kesuburan kandungannya. Katanya, keluargaku kejam. Masa baru lima tahun dia jadi istriku, begitu saja memvonis dia mandul. Ceraikan saja perempuan mandul itu. Cari perawan yang subur.
”Jangan menceracau begitu, dong, Mimin,” bisikku. ”Yang sudah, yang sudah, ya sudahlah! Maafkanlah mereka. Yang penting, aku kan tetap tresno padamu. Aku Kukuh, bukan.”
Bersambung...
Subscribe to:
Posts (Atom)