Showing posts with label arsip lama. Show all posts
Showing posts with label arsip lama. Show all posts

Thursday, August 16, 2007

Membaca Surat Ulu

Surat Ulu adalah aksara lama yang dikenal oleh masyarakat adat Rambang. Meski surat ulu sudah tidak lagi populer di masyarakat adat yang berdomisili di Prabumulih, tapi dusunlaman mencoba mendokumentasikannya dalam seri belajar surat ulu. Untuk lebih jelasnya bisa dibuka di rubrik ”indigenous knowledge”.

Aksara (alfabet) dalam Surat Ulu, memiliki 19 huruf. Teknik membacanya, berbeda dengan teknik membaca dalam aksara latin. Aksara latin bisa menggunakan satu huruf untuk menimbulkan bunyi pada kata yang dimulai dengan huruf vokal, a, i, u, e, dan o. Selain itu, haruslah menggunakan penggabungan dua huruf atau lebih untuk menimbulkan bunyi. Misalnya untuk menuliskan kata ”padi” menggunakan aksara latin, diperlukan empat huruf. Yakni: p, a, d, dan i.

Sedangkan dengan menggunakan surat ulu hanya memerlukan dua huruf: ”pe” dan ”de”. Bagaimana kedua huruf ini bisa merangkai bunyi ”pa” dan bunyi ”di”, adalah dengan memanfaatkan tanda baca. Demikian juga untuk mematikan bunyi. Misalnya pada kata ”padam”. Padam ditulis dengan dua huruf ”pe” dan ”de” yang ditutup dengan huruf ”Me” yang dimatikan dengan tanda baca. Tanda baca itu akan mematikan huruf ”Me” sehingga menimbulkan bunyi ”M”, seperti jika kita mengeja ”Mmm”.

Secara lengkap, tanda baca yang digunakan untuk merangkai kata dengan aksara surat ulu adalah sebagai berikut:

Kejina (dua titik di kanan bawah huruf)
Berbunyi: A

Ketileng (titik di kiri bawah huruf)
Berbunyi: I

Kebuntut (titik di kanan bawah)
Berbunyi: U

* (?) (satu titik di kiri huruf, dua titik di kanan huruf)
Berbunyi: é
Seperti bunyi e pada kata Bebek

** (?) (tiga titik –-membentuk segitiga dengan alas di atas—di kanan bawah huruf)
Berbunyi: O

Kelawan (titik di kanan atas huruf)
Berbunyi: AI

Kemincak (tiga titik di kanan atas huruf)
Berbunyi: AK

Kepintal (lingkaran/bulatan di kiri atas huruf)
Berbunyi: AL

Ketikam (lingkaran/bulatan di bawah huruf)
Berbunyi: AM

Due di pucuk (dua titik di kanan atas huruf)
Berbunyi: AN

Kebulat (titik tepat di atas huruf)
Berbunyi: AT

* * * (?) (empat titik di kanan bawah huruf)
Berbunyi: AU

Ketulang (titik di samping kiri huruf)
Berbunyi: NG

Ketulis (koma di kanan atas huruf)
Berbunyi: S

Kejunjung (setengah lingkaran hadap atas -- huruf U latin -- di atas huruf)
Berbunyi: AR/UR
Ketulap (setengah lingkaran hadap atas-- huruf U latin, di kiri bawah huruf)
Berbunyi: AP

Selain tanda-tanda baca tersebut, aksara surat ulu juga memiliki 8 hurup pengimbang (buah ngimbang). Buah ngimbang digunakan untuk mengatasi kesulitan pembacaan jika huruf E bertemu dengan huruf mati. Kedelapan buah ngimbang tersebut adalah: engke, engge, ente, ende, empe, embe, enje, ence.

Contoh penggunaan buah ngimbang:
Engke, pada kata: t-engka-dak, b-engka-rung, t-engka-yap, t-engku-rup, s-engke-lat, t-engku-lok.
Engge, pada kata: enggut, s-ing-ge, enggan
Ente, pada kata: s-ente, m-ente-ri, t-enta-du.
Ende, pada kata: endung, endai, pendopo.
Empe, pada kata: empat, k-empang, empai, t-empu-yak.
Embe, pada kata: s-embi-lan, k-ambang, s-ambil, s-emba-yang.
Enje, pada kata: ng-enjok, m-enja-ngan, b-injo-l.
Ence, pada kata: p-encak, k-ance, p-enca-rian.

Aksara: Surat Ulu

Ditengarai kebudayaan Prabumulih [suku rambang] adalah kebudayaan tua. Salah satu alat buktinya adalah adanya aksara. Aksara yang disebut Surat Ulu ini, menurut antropolog asal Prabumulih, Yulius Hendra, diduga adalah aksara Melayu Tua.



Aksara ini memiliki 19 huruf dengan bunyi K, G, Ng, T, D, N, P, B, M, C, J, Ny, S, R, L, Y, W, H, E. Deratan huruf ini jika dieja menjadi, Ke, Ge, Nge, Te, De, Ne, Pe, Be, Me, Ce, Je, Nye, Se, Re, Le, Ye, We, He, E. Untuk menuliskan bunyi yang tidak berakhiran E, aksara ini dilengkapi dengan tanda baca.

Ke depan dusunlaman akan menyajikannya satu persatu sebagai sarana belajar surat ulu bersama.

[tulisan ini pernah dipublikasikan melalui blog lama dusunlaman]




Friday, July 20, 2007

Bioskop Nasional



Oleh: Topan Redda Hasanuddin

Seperti pernah ditulis di weblog ini, bioskop Nasional adalah salah satu media hiburan gambar bergerak tertua di kota Prabumulih . Didirikan sekitar era 1950-an oleh duo kongsi TERINOM dan SUHUR (seperti diceritakan kembali oleh Suherman Muis Suhur dalam email kepada saya baru-baru ini).

Keberadaannya di Prabumulih di era tahun 1950-an itu mungkin cukup fenomenal. Coba bayangkan seperti apa kota Prabumulih di tahun 1950-an? Jalan Rambang (sekarang Jalan Sudirman) sebagai jalan utama di Prabumulih masih sempit dan mungkin tidak semuanya sudah diaspal. Hutan-hutan dan belukar yang mengelilingi kota masih lebat dan asri.. Tapi kota Prabumulih sudah mempunyai gedung bioskop sendiri.
Keberadaan "Nasional Bioscope" (begini dulu ia dieja) masih terus berlanjut hingga ke era 70-an kala saya masih duduk di sekolah dasar. Bioskop Nasional ditonton oleh bertruk-truk masyarakat dari dusun-dusun sekitar untuk menonton dengan riuh dengan bertepuk tangan dan berteriak-teriak bila sang Jagoan India sudah datang menyelamatkan pacarnya yang ada di tangan musuh...

Ya, film India! Film India memang tontonan terfavorit masyarakat waktu itu. Siapa yang tak kenal dengan Dev Anand, Hema Malini, Dharmendra, Jeetendra, Pran, Satrughan Sinha, Rishi Kapoor, Helen, Amitabh Bacchan, Dimpel Kapadia, Nettu Singh, Rakesh Roshan, Sunil Dutt...

Film India itu akan diputar hingga berhari-hari bahkan bisa sebulan penuh! Daya tampung bioskop hanya 300-400 tapi bisa dimuati oleh 700 orang! Penonton rela nonton sambil berdiri dan kepanasan sambil berpeluh keringat demi menonton bintang kesayangannya itu tadi. Jika adegan sudah sampai ke perkelahian ala India, maka ya itu tadi, penonton akan berteriak-teriak sambil bertepuk tangan dan bahkan mencucurkan air mata bila adegan sedih berkepanjangan yang ditayangkan.

Peringkat kedua film yang disukai adalah silat mandarin dan Hongkong dengan bintang-bintang Fu Shen, David Chiang, Ti Lung, Chen Kuan Thai. Lalu film silat Jepang dengan bintang utama Etshuko Shiomi dan Sinichi Chiba serta Yasuaki Kurata sebagai langganan pemeran antagonis.

Namun kini dengan semakin berkembangnya teknologi video hingga VCD dan DVD maka peran bioskop sebagai pemberi gambar hidup pelan-pelan menyurut. Hingga awal tahun 1990-an Bioskop Nasional masih menyuguhkan tontotan film-film dengan jumlah penonton yang semakin merosot dan bahkan tidak menguntungkan lagi sebagai usaha. Hingga akhirnya ditutup sama sekali. Meski gedung ini sempat dimanfaatkan oleh sebuah usaha permainan ketangkasan. [Topan Redda Hasanuddin, Kamis 18 Mei 2006, 1:09 PM]

Tulisan ini pernah dimuat di blog lama dusunlaman, 23 Mei 2006. Untuk membaca koleksi tulisan lama dusunlaman, silakan klik http://dusunlaman.blog.com

googled278a6fe0e049407.html
banner8.gif