Showing posts with label keanekaragaman hayati. Show all posts
Showing posts with label keanekaragaman hayati. Show all posts

Friday, October 26, 2007

Pameran Pakis Hias Ramai Pengunjung







Suasana Pameran Pakis Hias dan Bonsai Prabumulih (20-21/10/07) silam. Sejumlah pejabat publik tampak menghadiri yang mengunjungi pameran, di antaranya Wakil Walikota Prabumulih Yuri Gagarin, Anggota DPRD Prabumulih M. Erwadi dan Erwansyah (atas), Sulur pakis yang memesona (kiri tengah), suasana di stan pameran (kanan tengah), dan Yuri Gagarin sedang berbincang tentang bonsai dengan beberapa penggemar bonsai.









Thursday, October 25, 2007

Pakis Simpai Nan Memukau



Jenis pakis (fern) ini memiliki banyak nama. Kalangan hobbis menyebutnya di Prabumulih menyebutnya Pakis Simpai. Nama "simpai" yang berarti nama satu spesies kera yang berbulu keemasan memang cocok diberikan pada spesies pakis ini, mengingat bonggolnya ditumbuhi bulu halus seperti rambut yang tumbuh di sekujur tubuh kera.

Penggemar tanaman hias di Palembang menyebutnya pakis monyet, ada juga yang menamainya pakis Sun Go Kong. Nah, Sun Go Kong itu kan nama kera dalam satu legenda Cina kuno dimana sang kera juga memiliki bulu berwarna keemasan?!



Bulu ini tidak hanya memperelok penampilan sang pakis. Konon, sang bulu juga dipercaya sebagai obat luka.

Foto-foto pakis simpai yang ditampilkan disini diambil pada pagelaran Pameran Pakis Hias dan prabumulih yang diselenggarakan di Prabumulih, 20-21 Oktober baru-baru ini.








Pakis Hias Bersemi di Prabumulih


Oleh: Syam Asinar Radjam

Pakis merupakan salah satu jenis tumbuhan yang banyak ditemukan di dunia. Diperkirakan, sekitar 12.000 spesies pakis tumbuh di bumi. Sebagian besar spesies pakis hidup di alam tropis seperti di Indonesia.

Di Pulau Sumatera, Pakis tumbuh di banyak habitat. Mulai dari dataran rendah hingga pegunungan. Mulai dari daerah yang beriklim relatif panas seperti Prabumulih sampai sampai kawasan sejuk pegunungan bukit barisan.

Aneka spesies pakis memiliki keindahan tersendiri. Terutama pada daun. Karenanya, meski masih masih terbatas, beberapa penggemar (hobiis) tanaman hias memanfaatkan tumbuhan ini sebagai penghias rumah. Di antara jenis yang sedikit itu adalah jenis-jenis suplir dan pakis haji. Padahal masih amat sangat kelewat banyak spesies pakis dengan keindahan yang unik dapat ditemukan di alam tropis Indonesia.

Bagi kalangan penggemar tanaman hias di Prabumulih, keelokan pakis mulai marak dilirik sejak sekitar dua tahun silam. Mereka mulai mengoleksi aneka pakis yang diambil dari hutan-hutan alam sekitar kota Prabumulih. Beberapa spesies pakis yang mulai populer adalah pakis lengguang, pakis simpai atau pakis emas, dan... pakis gajah.

Belajar dari pengalaman Maulid, salah seorang penggemar pakis menyebutkan bahwa bertanam pakis amat mudah. Anakan pakis yang mereka dapatkan dari hutan atau kebun mereka, tinggal dipindahkan ke pot yang telah diisi dengan media tanam (tanah atau kompos).

“Asal jangan lupa disiram,” pesan Maulid. ”Tumbuhan ini membutuhkan air yang cukup. Sebab, di habitat aslinya, pakis tumbuh di tepi-tepi sumber air seperti danau atau sungai. Kendati demikian, jenis pakis yang terdapat di Prabumulih umumnya tidak menyukai kondisi yang tergenang air.

Mengenai pemupukan, pakis hias juga tidak rakus unsur hara. “Jika dirasa perlu, bolehlah diberi pupuk daun. Cukup dengan menggunakan NPK secukupnya,” imbuh Maulid.

“Pakis adalah tanaman hias yang cocok untuk segala kebutuhan, baik sebagai penghias halaman, di dalam ruangan, bahkan untuk lanskap yang luas. Selain sebagai tanaman hias, pakis juga bermanfaat sebagai tumbuhan obat,” tambah Syamsi Asrtoni, salah seorang penggemar pakis hias lain.


[Syamsi Artoni | foto oleh Syam]

Saat ini kalangan penggemar pakis hias memang baru sebatas mengoleksi. Ke depan mereka berniat membudidayakannya. “Sekarang kami sedang mempelajari bagaimana teknik perbanyakan tumbuhan ini,” lanjut Syamsi.

Upaya Maulid dan rekan-rekan merupakan salah satu upaya konservasi dan bukti kecintaan mereka pada kekayaan alam Prabumulih. Karena, seiring perkembangan kota Prabumulih, hutan-hutan alam semakin sedikit, dan semakin sedikit pula tumbuhan pakis dapat ditemukan di alam.

Buah ketekunan orang-orang gila

Pakis hias memang mulai bersemi di Prabumulih. Dua tahun silam, gara-gara ide Maulid dan rekan-rekannya untuk memopulerkan tumbuhan ini sebagai tanaman hias, mereka dianggap orang-orang gila. Sebab, tumbuhan ini merupakan tumbuhan liar yang sangat gampang ditemukan di kawasan tepi kota Prabumulih.

Namun, saat ini pekerjaan “orang-orang gila” ini telah mendapat tempat di hati para penggemar tanaman hias Prabumulih. Tak hanya diminati oleh masyarakat Prabumulih, banyak juga perantau asal Prabumulih menjadikan pakis sebagai buah tangan untuk dibawa ke kota-kota di Jawa.


[Pakis Gajah | Foto oleh Syam]


[Pakis Emas atau Pakis Simpai (Kera Emas) | Foto oleh Syam]


[Pakis Lengguang | Foto oleh Syam]





Saturday, June 16, 2007

Jus Kemang!

Jus Kemang!

Syam Asinar Radjam [dusunlaman]

Ada yang membuat kunjungan saya ke Bogor beberapa bulan lalu (28/02) berbeda. Jus buah kemang!

Kemang (Mangifera kemanga caecea) bukanlah buah asing bagi saya. Sejak kecil saya mengenal buah yang berkerabat dengan mangga (Mangifera indica) ini. Tapi, kali pertama menikmatinya dalam bentuk jus atau sari buah, ya baru saat itu.

Di kampung kelahiran saya, buah ini sangat populer. Bukan hanya karena ada dua tempat yang namanya berasal-usul dari nama buah ini (bawah kemang, dan kemang tanduk). kemang paling populer untuk dibuat sambal. Daging buah kemang yang matang dicacah, dibumbui cabai, garam dan sedikit terasi. Disajikan sebagai sambal mentah maupun sedikit ditumis sama enaknya. Apalagi bila disantap bersama gulai atau pindang ikan patin. Wuiiih...


Konon di beberapa daerah, daging buah kemang yang matang dijadikan asinan dan diawetkan dalam garam, dan disimpan dalam botol untuk membuat sambal jika tidak sedang musim buah. Serupa dengan mengawetkan duren menjadi tempoyak.

Ada sebagian orang, termasuk saya menyukainya untuk disantap selayaknya buah segar. Rasanya fantastis. Di balik kesegarannya dan keharuman khasnya, campuran rasa asam, manis, dan kelat bermain di lidah. Sensasi rasa asamnya bisa bertahan selama beberapa jam di gigi.

Tapi jangan mencoba buah yang bentuknya lonjong hampir bulat telur ini jika buahnya masih mentah. Getah kemang muda tergolong "tajam" dan dapat menyebabkan jika tersentuh kulit. Rasanya mirip seperti luka bakar.

Dibanding keluarga mangga yang lainnya, kemang memiliki kulit yang tipis (1 mm). ketika masih muda, si kulit tipis ini berwarna coklat pucat atau kadang kekuningan, lalu berubah menjadi agak kuning cerah agak kehijauan serta lebih mengilap ketika matang. Daging buahnya berwarna putih susu, bertekstur lembut serta berserat sedikit.

Menanti kemang berbuah adalah salah satu keasyikan tersendiri. Terutama ketika bayangan merah jambu bunganya memantul di permukaan air sungai nan jernih. Kebetulan sebatang pohon yang kemang yang berdiri tegak lurus, tinggi meraksasa, tumbuh di tepi sungai tak jauh dari rumah orang tua saya. Tepatnya di "jerambah kuning, satu tempat pemandian yang berada di aliran sungai jambat teras.

Saya tidak tahu apakah saat ini pohon kemang itu masih berdiri di sana. Yang pasti, jus kemang di salah satu kantin yang berjejer di sayap kiri lapangan Sempur Bogor telah mengingatkan saya pada salah satu buah favorit saya ini. Sampai-sampai, dalam perjalanan pulang kembali ke Jakarta, saya membeli 2 kilo kemang mengkal yang banyak dijual di stasiun Merdeka Bogor. Berharap menikmati jus kemang di rumah, sebanyak yang saya hasratkan.

Sesampai di rumah, saya baru sadar. Kami belum punya juicer atau blender sekalipun.[]

banner8.gif