Wednesday, June 27, 2007

DIG IN! : Hanging on Pertamina's Promises At Prabumulih

The river Kelekar in Prabumulih, South Sumatera has acquired a new name. It is now also known as 'Kali Minyak', which means river of oil, a name given by new settlers coming into the area (mostly originating from Java). The new name is unsurprisingly suitable. It is nearly a century since the first oil exploration began in the area, thus it is hardly surprising that the flow of Kelekar river is now laden with crude oil (sludge) and water residue originating from oil processing operations by PERTAMINA.

The pollution of the Kelekar river system and its surrounding area by PERTAMINA Operation Exploration and Production II (now known as Upstream Operation Area/DOH) of Prabumulih had ignited a wave of protests from the Prabumulih community in early 2000.

In 1907 (the Dutch Indies era), oil mining was first started by BPM (De Bataafshe Petroleum Maatschappij), a private Dutch company. Later on, with the arrival the Japanese (1942), management of the oil wells changed hands. Next on the line was PT Shell that took over straight away after the Japanese defeat. Not until sometime in 1948, PERMINA took control of the wells. Then, in the 1950's, PERMINA gradually turned into PERTAMINA.

"We could only watch our suho gehedek (local tongue for natural wealth) taken away by the company (PERTAMINA), while what's left for us is only the excess (sludge)!" said a community member of Prabumulih village during several acts of protest in mid 2000 on the sludge dumping by PERTAMINA.

This statement was the result of a series of damages and impacts suffered by the community living along the Kelekar river system and its surrounding area. The pollution has caused the severe drop in water quality and the extinction of the river biota that had been abundant. In fact, the Prabumulih traditional calendar system confirmed this fact since it is used to mention a tradition called 'nanggok berdusun' among its list of events, which was a tradition where an entire village would get together and communally gathered fish from the river.

Furthermore, the waste also polluted the community's wells, destroyed local rice fields, and often seeped into community's rubber plantation, forest and 'Tanah Budal' (indigenous lands). The damages were worsened since the company's method in cleaning the river from oil was to burn it off by setting the river ablaze.

After protests made by communities and local organization (Solidarity for Prabumulih Environment) together with Walhi South Sumatra, Palembang Legal Aid Foundation, and IMPALM Foundation, PERTAMINA finally admitted their fault in polluting the river Kelekar and agreed to fulfill the 10 community's demands. The company has realized three of those demands during the course of year 2000 up to mid 2001.

These three demands are for the company to:

  1. Cease polluting Kelekar river,
  2. Provide clean water resources for the community (drilled wells, clean water tanks, well and clothes-washing area for community on the river bank).
  3. Support capacity development of local human resources (scholarships, training, course, etc).


    While the other 7 points, yet to be realized, are for the company to:
  1. Rehabilitate the Kelekar river system and catchment area,
  2. Reforestate the Kelekar river system and catchment area,
  3. Pay compensation for all damages done,
  4. Provide free Health Care Service for the local community,
  5. Apologize according to local traditions
  6. Build and renovate places of worship (mosques)
  7. Build and renovate the village hall.

Unfortunately, PERTAMINA has always considered all pollution caused by their activity in Prabumulih as past collective mistakes. They seemed to display lack of seriousness in following through with their commitment to stop polluting the river since several incidents of pollution still occurred even after the agreement was signed.

The community further urged the company to restore the environmental quality of the area and to acknowledge the community's rights on their natural resources by coming out with several demands, among others were:

  1. The implementation of strict liability and the restoration of PERTAMINA's production units so that the oil exploitation process will no longer cause grief and damages for the local community.
  2. Community should be given the opportunity to be fully involved in any decision making process of the company.
  3. Community is still waiting for the further understanding of the company's promises as agreed upon within the agreement by both parties.


WRITTEN BY: Syam Asinar Radjam (Coordinator of City Pollution Division of WALHI of South Sumatra), and Syamsul Bahri Radjam, SH (Staff of Natural Resources Division of Palembang Legal Aid Foundation, South Sumatera), 2001.
Tulisan ini dimuat pernah dimuat di KEREBOK (media kampanye berbahasa Inggris) Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), Volume 3, Number 13, August 2001 dan Minergy News


Monday, June 25, 2007

Duku [bagian 2]

Duku [Bagian 2]
Cerita Pendek K. Usman

sebelumnya...


”Tapi, ng ng ng, kau tidak sayang pada anak kita. Mencari duku saja kau tidak mau. Belakangan kau sengaja pulang telat dari kantor, sampai aku jenuh sendiran di rumah, setelah Mbok Nah pulang ke rumahnya lepas magrib. Mana buktinya, kau menyayangi anak pertama kita?”

Kupikir, tidak perlulah melayani perempuan yang sedang sensitif. Lebih baik diam, atau keluar cari duku. Bagi Mimin saat ini, cari duku adalah bukti kasihku, sayangku, dan cintaku pada jabang bayi dalam rahimnya. Kini Mimin tidak menggnakan logika, atau akal sehat. Mungkin juga bawaan bayi. Bawaan bayi itu mungkin juga suatu mitos. Biarlah. Yang penting, dia menuntut bukti tanda kasih sayangku pada anak kami. Kuarih jaket kulit di gantungan. Kunci motor kukeluarkan dari laci lemari pakaianku.

”mau ke mana? Kabur, ya?” teriaknya pilu. ”Akan kau tinggalkan aku sendirian? Kau sudah bosan karena aku tidak cantik lagi? Karena aku tidak langsing lagi? Begitu?”

”Katamu minta duku?” jawabku kalem.

”Bukan aku yang minta, tapi anak kita, Bung Gindo!”

”Ya, anak kita. Aku akan keluar, cari duku.”

”Terpaksa atau ikhlas?”

”Mimin, masa, sih, terpaksa. Ada-ada saja kau ini. Ya, ikhlas, dong.”

Ketika motor sudah di halaman rumah, mesinnya kuhidupkan, agar panas. Kutanyakan pada Mimin, apakah pada saat ini sudah musim duku? Sebagai insinyur pertanian, dia mengerti benar kapan musim duku, atau musim buah lainnya.

”Duku itu berbunga antara bulan Desember sampai Januari,” jawabnya dengan pikiran jernih. ”Buah duku bermasakan pada bulan-bulan Maret, April, sampai Mei,” lanjutnya dengan pikiran cemerlang. Pantaslah dia lolos dulu dengan cumlaude.

”Sekarang apa sudah musim?” tanyaku.

Dia menggeleng pasti.

”Apa tidak mubazir kepergianku saat ini keliling kota mencari duku kalau memang tak musim?”

Wajahnya merengut lagi. Sensitifnya kambuh.

”Belakangan ini sering terjadi salah musim,” kilahnya. ”Mungkin karena dunia makin tua. Itulah sebabnya, pohon-pohon pun berbuah salah musim, yang lazim disebut buah sela. Hal itu akhir-akhir ini sering terjadi. Ramalan cuaca dari lembaga meteorologi dan geofisika pun sering meleset,” lanjutnya. ”Jadi, bukan tidak mungkin, di saat salah musim, duku, atau pohon-pohon buah-buahan lain berbuah.” Argumentasinya memang masuk akal. ”Kalau begitu, aku jalan, ya?”

”Ya, Sayang. Kancingkan dulu, dong, jaket kulitmu!” Mimin maju dan memasangka resliting jaket kulit bututku.

Begitu meninggalkan rumah-kecil-mungil kami di kawasan perumahan yang disebut ’kredit perumahan rakyat’ alias KPR, aku memeras otak. Kemana perburuan duku paling efisien di pagi buta begini?

Aku tahu dari pengalaman waktu muda, saat senang begadang sampai pagi, pukul tiga pasar-pasar tradisional sudah ramai. M,obil-mobil bermuatan sayuran dan buah-buahan datang dari berbagai penjuru, menyerbu pasar tradisional. Aku pun tahu, ada pasar swalayan yang buka 24 jam di kotaku. Ke sanalah aku memulai perburuan.

Bersambung...

Festival Sastra Tutur Sumatera Selatan 2007



Bagi para perantau Prabumulih, atau umumnya Sumatra selatan yang sedang menimbang-nimbang kapan baiknya pulang kampung, agaknya akhir bulan Agustus nanti adalah waktu tepat. Sebab, ada pergelaran yang sayang untuk dilewatkan. Festival Sastra Tutur 2007. Sebuah even budaya yang menampilkan keragaman sastra tutur atau sastra lisan dari berbagai suku dengan bahasa berbeda di Sumatra Selatan

Ini adalah kali kedua setelah festival sastra tutur 2004 yang diselenggarakan oleh Komunitas Batanghari Sembilan (Kobar 9) dan Majelis Seniman Sumsel (MSS). Sebagaimana dilansir dari harian Sumatra Ekspress, Vebri Al Lintani dari Kobar9 menyatakan, festival kali ini akan berbeda dibanding festival tiga tahun silam..

Bedanya, penampilan sastra tutur dari setiap daerah tidak seperti pertunjukan yang asli. Melainkan, telah dikemas (direvitalisasi) lebih menarik untuk ditonton masyarakat umum. Revitalisasi ini ditekankan pada pengolahan (improvisasi, kreativitas) bentuk penyajian dan fungsi.

Perbedaan lainnya, jika pada pergelaran tahun 2004 lalu tidak ada penilaian, maka tahun ini akan diadakan penilaian. ”Penilaian dilakukan pada pengemasannya, bukan pada isinya. Maksudnya penilaiannya hanya pada penampilan yang mendukung penampilan khas dari setiap daerah tidaklah mungkin dapat dinilai. Tidaklah mungkin mempertandingkan guritan, yang menurut orang-orang Basemah tentulah yang terbaik, dengan lelihiman yang menurut orang-orang Ogan juga yang terbaik,’’ tutur Vebri.

Acara ini terselenggara berkat dukungan Bank Sumsel yang memang dikenal banyak mendukung kegiatan revitalisasi kebudayaan lokal.[]

Friday, June 22, 2007

Rahman Kembali, Yuri Masih Diperiksa

Rahman Djalili, dipastikan kembali aktif sebagai walikota prabumulih. Rahman yang dinonaktifkan terkait dugaan korupsi pembangunan perkantoran gedung walikota, diperkirakan akan kembali berkantor senin depan (25/06). Informasi ini diterima dusunlaman dari seorang wartawan Sumatra Ekspres yang sekarang mengelola Prabumulih Pos.

Sementara itu, Wakil Walikota Prabumulih Yuri Gagarin yang menjadi pejabat plt walikota tatkala Rahman di non-aktifkan, tampaknya masih berada di bawah bayang-bayang proses hukum.Dilansir dari Sriwijaya Pos (16/06), Yuri masih menunggu proses hukum terkait dugaan penggelembungan dana pembelian mobil dinas wakil walikota.

”Penyidikan terhadap kasus tersebut terus berjalan sesuai prosedur yang berlaku,” ujar Kapolda Sumsel, Irjen Pol Ito Sumardi, SH, MH, MBA Seperti dimuat di Sriwijaya Pos. []

Duku

Duku [bag. 1]
Cerita Pendek K. Usman

Tengah malam, aku terbangun oleh sentuhan jari-jemari halus membelai pipi kananku. Refleks aku terduduk. Wajah cantik itu tersenyum manis di sebelah kiriku.

”Ada apa tengah malam begini, hem,” tanyaku.

”Sayang, anak kita minta duku,” jawabnya manja sambil merangkul leherku.

”Duku? Tengah malam begini?”

”Ya, sayang. Anak pertama kita yang meminta, bukan aku.” Mimin membelai perutnya yang makin membesar. Tangan kananku ditariknya, didekatkan ke perutnya. Perutnya hangat di telapak tangan kanankuku. ”Sore tadi kan dokter Han bilang, kandunganku sudah jalan tiga bulan,’ katanya tetap manja dan tetap tersenyum.

Kulihat jam dinding. Baru pukul 02.15. Kugosok-gosok mata. Sebab aku ragu, kok angka dua itu mirip angka lima. Ternyata, mataku masih sehat. Memang demikianlah adanya. Jam dinding itupun berjalan normal-normal saja.

”Mimin, lihat itu!” aku menunjuk ke arah jam dinding.

”Lho, apa urusannya dengan waktu kalau memang kau kasih pada anakmu?” Suaranya ketus. ”Delapan tahun kau dan aku menunggu kehadirannya, Sayang?”

”Ya, delapan tahun. Kau benar. Tapi sekarang tengah malam. Mana ada penjual duku menjajakan dagangannya waktu seperti ini!”

”Cari, dong!”

”Semua pasar tradisional tutup. Pasar swalayan apalagi. Penjaja buah keliling, pada saat begini sedang kelonan di rumah masing-masing.”

”Kok, kamu tahu pedagang keliling kelonan?” tukas Mimin kritis.

”Habis? Tengah malam begini enaknya kelonan, bukan?”

”Maumu, huh!” Mimin mencibir. Dalam keadaan begitu, sejak dia masih gadis menggemaskan. Biasanya kupagut dagunya, dan bibir tipis kukulum-kulum sampai dia menggelinjang.

Tiba-tiba Mimin merebahkan tubuh ke ranjang dan membelakangiku. Tak lama kemudian terdengar sedu-sedannya. Ia mengatakan, ”Kau tidak sayang pada anak pertama kita. Memang aku yang kerja keras mencari spesialis kandungan, shalat tahajud, dan berdo’a untuknya.”

Tangis Miminmakin menjadi-jadi. Gerutunya merembet-rembet pada orangtuaku, adik-adikku, paman, dan bibiku, yang meragukan kesuburan kandungannya. Katanya, keluargaku kejam. Masa baru lima tahun dia jadi istriku, begitu saja memvonis dia mandul. Ceraikan saja perempuan mandul itu. Cari perawan yang subur.

”Jangan menceracau begitu, dong, Mimin,” bisikku. ”Yang sudah, yang sudah, ya sudahlah! Maafkanlah mereka. Yang penting, aku kan tetap tresno padamu. Aku Kukuh, bukan.”

Bersambung...





Monday, June 18, 2007

Buruk Tergantung di dunia Maya

Setelah meninggalkan Prabumulih dan menetap sementara di Jakarta hingga saat ini, rasa rindu mendengar tembang-tembang sumsel mulai tumbuh. Beberapa lagu memang tidak terlalu sulit didapat, bahkan di lapak kaset bajakan yang ada di Jakarta, bisa ditemukan. Di pasar Senen dan terminal Blok M misalnya.

Yang tak gampang adalah mencari kembali lagu-lagu Sahilin dan Denali yang kaset-kasetnya diproduksi oleh Palapa Record, Palembang. Lagu-lagu berirama batanghari sembilan yang mereka nyanyikan mereka diiringi alunan gitar tunggal. Uniknya, gitar yang dimainkan memiliki stem (tune) berbeda dengan gitar standar, sehingga menghasilkan bunyi-bunyi yang khas.

Entah berapa kali sudah saya memesan melalui teman-teman yang tinggal di Palembang. Nyatanya, keinginan untuk mendengar kembali lagu-lagu Denali atau Sahilin belum kesampaian hingga akhirnya saya menemukannya di dunia maya.

Di situs multiply saya menemukan ”Kaos Lampu” yang kerap juga disebut lagu ”buruk tergantung” atau ”bujang tue”. Ini adalah salah satu lagu milik Sahilin yang populer. Liriknya amat kocak dan menyerempet ke hal-hal saru. Berupa pantun bersahut antara Sahilin dengan Siti Rahmah [?].

Multiply akhirnya menjadi ladang perburuan bagi saya untuk mencari dan mengunduh (download) lagu-lagu daerah sumsel. Terlepas dari pertanyaan tentang royalti yang seharusnya diberikan kepada para seniman Sumsel, setidaknya saya senang bahwa lagu-lagu Sumsel yang sudah tidak diproduksi lagi oleh industri rekaman bisa dinikmati di seluruh dunia. Tentu saja selama dapat mengakses internet.[]

banner8.gif