Friday, October 26, 2007

Bioskop Nasional Kini

Oleh: Syam dusunlaman



Bangunan tua yang tampak tak terawat ini dulunya merupakan salah satu pusat hiburan kenamaan di Prabumulih, Bioskop Nasional. Dusunlaman pernah memuat sebuah memoar yang ditulis oleh Topan Redda Hasanuddin, salah seorang cucu salah seorang pemilik bioskop ini.

Dulu di Pasar Prabumulih berdiri empat buah bioskop. Namun, kesemuanya bernasib sama dengan kebanyakan bioskop lain di Indonesia. Gulung tikar.

Meski demikian, Bioskop Nasional ini merupakan satu-satunya bekas bioskop yang bangunannya belum mengalami pemugaran. Bagi warga Prabumulih, di gedung ini banyak kenangan pernah bersemi.

foto-foto berikut merupakan gambar terkini beberapa sisi bangunan Bioskop Nasional yang berada di sisi Jalan Urip Sumoharjo. Tampak seseorang menyusuri koridor teras bioskop.















Pameran Pakis Hias Ramai Pengunjung







Suasana Pameran Pakis Hias dan Bonsai Prabumulih (20-21/10/07) silam. Sejumlah pejabat publik tampak menghadiri yang mengunjungi pameran, di antaranya Wakil Walikota Prabumulih Yuri Gagarin, Anggota DPRD Prabumulih M. Erwadi dan Erwansyah (atas), Sulur pakis yang memesona (kiri tengah), suasana di stan pameran (kanan tengah), dan Yuri Gagarin sedang berbincang tentang bonsai dengan beberapa penggemar bonsai.









Thursday, October 25, 2007

Pakis Simpai Nan Memukau



Jenis pakis (fern) ini memiliki banyak nama. Kalangan hobbis menyebutnya di Prabumulih menyebutnya Pakis Simpai. Nama "simpai" yang berarti nama satu spesies kera yang berbulu keemasan memang cocok diberikan pada spesies pakis ini, mengingat bonggolnya ditumbuhi bulu halus seperti rambut yang tumbuh di sekujur tubuh kera.

Penggemar tanaman hias di Palembang menyebutnya pakis monyet, ada juga yang menamainya pakis Sun Go Kong. Nah, Sun Go Kong itu kan nama kera dalam satu legenda Cina kuno dimana sang kera juga memiliki bulu berwarna keemasan?!



Bulu ini tidak hanya memperelok penampilan sang pakis. Konon, sang bulu juga dipercaya sebagai obat luka.

Foto-foto pakis simpai yang ditampilkan disini diambil pada pagelaran Pameran Pakis Hias dan prabumulih yang diselenggarakan di Prabumulih, 20-21 Oktober baru-baru ini.








Pakis Hias Bersemi di Prabumulih


Oleh: Syam Asinar Radjam

Pakis merupakan salah satu jenis tumbuhan yang banyak ditemukan di dunia. Diperkirakan, sekitar 12.000 spesies pakis tumbuh di bumi. Sebagian besar spesies pakis hidup di alam tropis seperti di Indonesia.

Di Pulau Sumatera, Pakis tumbuh di banyak habitat. Mulai dari dataran rendah hingga pegunungan. Mulai dari daerah yang beriklim relatif panas seperti Prabumulih sampai sampai kawasan sejuk pegunungan bukit barisan.

Aneka spesies pakis memiliki keindahan tersendiri. Terutama pada daun. Karenanya, meski masih masih terbatas, beberapa penggemar (hobiis) tanaman hias memanfaatkan tumbuhan ini sebagai penghias rumah. Di antara jenis yang sedikit itu adalah jenis-jenis suplir dan pakis haji. Padahal masih amat sangat kelewat banyak spesies pakis dengan keindahan yang unik dapat ditemukan di alam tropis Indonesia.

Bagi kalangan penggemar tanaman hias di Prabumulih, keelokan pakis mulai marak dilirik sejak sekitar dua tahun silam. Mereka mulai mengoleksi aneka pakis yang diambil dari hutan-hutan alam sekitar kota Prabumulih. Beberapa spesies pakis yang mulai populer adalah pakis lengguang, pakis simpai atau pakis emas, dan... pakis gajah.

Belajar dari pengalaman Maulid, salah seorang penggemar pakis menyebutkan bahwa bertanam pakis amat mudah. Anakan pakis yang mereka dapatkan dari hutan atau kebun mereka, tinggal dipindahkan ke pot yang telah diisi dengan media tanam (tanah atau kompos).

“Asal jangan lupa disiram,” pesan Maulid. ”Tumbuhan ini membutuhkan air yang cukup. Sebab, di habitat aslinya, pakis tumbuh di tepi-tepi sumber air seperti danau atau sungai. Kendati demikian, jenis pakis yang terdapat di Prabumulih umumnya tidak menyukai kondisi yang tergenang air.

Mengenai pemupukan, pakis hias juga tidak rakus unsur hara. “Jika dirasa perlu, bolehlah diberi pupuk daun. Cukup dengan menggunakan NPK secukupnya,” imbuh Maulid.

“Pakis adalah tanaman hias yang cocok untuk segala kebutuhan, baik sebagai penghias halaman, di dalam ruangan, bahkan untuk lanskap yang luas. Selain sebagai tanaman hias, pakis juga bermanfaat sebagai tumbuhan obat,” tambah Syamsi Asrtoni, salah seorang penggemar pakis hias lain.


[Syamsi Artoni | foto oleh Syam]

Saat ini kalangan penggemar pakis hias memang baru sebatas mengoleksi. Ke depan mereka berniat membudidayakannya. “Sekarang kami sedang mempelajari bagaimana teknik perbanyakan tumbuhan ini,” lanjut Syamsi.

Upaya Maulid dan rekan-rekan merupakan salah satu upaya konservasi dan bukti kecintaan mereka pada kekayaan alam Prabumulih. Karena, seiring perkembangan kota Prabumulih, hutan-hutan alam semakin sedikit, dan semakin sedikit pula tumbuhan pakis dapat ditemukan di alam.

Buah ketekunan orang-orang gila

Pakis hias memang mulai bersemi di Prabumulih. Dua tahun silam, gara-gara ide Maulid dan rekan-rekannya untuk memopulerkan tumbuhan ini sebagai tanaman hias, mereka dianggap orang-orang gila. Sebab, tumbuhan ini merupakan tumbuhan liar yang sangat gampang ditemukan di kawasan tepi kota Prabumulih.

Namun, saat ini pekerjaan “orang-orang gila” ini telah mendapat tempat di hati para penggemar tanaman hias Prabumulih. Tak hanya diminati oleh masyarakat Prabumulih, banyak juga perantau asal Prabumulih menjadikan pakis sebagai buah tangan untuk dibawa ke kota-kota di Jawa.


[Pakis Gajah | Foto oleh Syam]


[Pakis Emas atau Pakis Simpai (Kera Emas) | Foto oleh Syam]


[Pakis Lengguang | Foto oleh Syam]





Saturday, September 29, 2007

Salam dari Permuleh!

Kita menyebutnya Belanda, meski negeri rakyat di negeri meneer itu menamainya Holland dan orang Inggris menyebutnya Netherlands. Kita Lidah kita juga membunyikan Inggris untuk England, Perancis untuk French.

Apa hubungan nama Belanda, Inggris, atau Perancis dengan nama dusunlaman kita, Prabumulih? Sebenarnya tidak ada. Tapi hampir tiap nama kota bernasib sama. Karenanya Batavia juga disebut Betawi, Palabuhan Ratu di lafalkan Pelabuhan Ratu, atau Papua selama bertahun-tahun menyandang nama Irian. Meski riwayat perjalanan nama itu berbeda-beda.

Nama prabumulih "Pra-bu-mu-lih", dipercaya bermula dari kata Uleh Pehabong, yang kemudian menjadi Pehabong Uleh. Konon, ketika masa pendudukan tentara Jepang di Nusantara, Pehabong Uleh terpeletot jadi Perabumulih oleh lidah "saudara tua" itu. Lalu, lidah Jawa membunyikannya dengan mudah menjadi Prabumulih. Gabungan dari kata "prabu" yang dalam bahasa Jawa berarti "raja" dan "mulih" yang berarti "pulang".

Beberapa hari lalu saya memeriksa account saya di technorati. Saya dapati ada satu lagi blog yang menautkan (link) ke blog (lama) dusunlaman. Adalah blog Rambang Dangku yang dikelola oleh Etmusahani Prihatin. Uniknya ia tidak menamai blog "Catatan Kecil Tentang Prabumulih" itu dengan nama dusunlaman atau Prabumulih. Melainkan... Permuleh!

Tak pelak, ulah Etmusahani, si Pateh Kepur ini mengingatkan satu nama lain yang juga berarti Prabumulih, ya, Permuleh itu. Kata Permuleh saya dengar dari lidah para kerabat dan teman-teman yang berdomisili di pesisir sungai Lematang. Di antaranya warga Rambang IV Petulai Dangku, Marga Rambang Empat Buah Dusun, bahkan Marga Benakat.

Tak cuma membuat saya teringat pada kata Permuleh. Etmushani di blog yang mengusung tema lokalitas ini membuat saya bernostaligia. Tulisan tentang "Musim Bekarang", "Budaya Mudik", atau "Lematang Putus" mengingatkan saya pada tempat dan peristiwa yang ia tulis.

Saya berharap dapat kembali menyajikan tulisan-tulisan senapas dengan apa yang ditulis Etmusahani. Sebagaimana tulisan-tulisan saya maupun para kontributor dusunlaman lainnya di blog Pehabong Uleh.

Untuk blog Etmusahani, Salam dari Permuleh!.




Wednesday, September 5, 2007

Daerah Pertambangan dan Kemiskinan

Kejadian Gizi Buruk yang ditemukan pada bulan April 2007 di RT. 1 Kelurahan Karang Jaya pada seorang anak yang bernama Jalina, berakhir dengan meninggalnya Jalina pada Agustus 2007 tadi, latar belakang orang tua Jalina yang hanya petani miskin dengan penghasilan kurang dari Rp. 150.000 per bulan salah satu indikator ketidakmampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan pokok (sembako) dan kebutuhan gizi anaknya (Sarvawi, Ketua RT. 01 Kelurahan Karang Jaya).

‘Gizi Buruk Jalina’ hendaknya menjadi ‘referensi’ bagi semua pihak untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat di Kelurahan Karang Jaya yang ‘notabene’ sebagai daerah penghasil minyak di Kota Prabumulih, dan sangat tidak pantas rasanya tingkat ekonomi dan kesehatan masyarakatnya jauh tertinggal dibandingkan Kelurahan-kelurahan lain yang ada di Kota Prabumulih.

Dana bagi hasi dari minyak dan gas bumi... pada tahun 2007 yang diterima pemerintah Kota Prabumulih sebesar 67, 743 Milyar (Enam Puluh Tujuh Koma Tujuh Empat Tiga Milyar), sedikit banyaknya juga berasal dari Kekayaan Alam yang berada di wilayah Kelurahan Karang Jaya (Struktur Talang Jimar Area Prabumulih) yang di eksploitasi PT Pertamina EP Region Sumatera.

Siapa yang bertanggung terhadap aspek sosial, ekonomi, kesehatan dan lingkungan di Kelurahan Karang Jaya?

UUD 1945 Pasal 33 ayat (3) mengamanatkan:
“Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”

Pertanyaanya adalah sejauh mana kemakmuran rakyat diciptakan oleh pelaksana negara di negeri ini jika pada kenyataannya komuniti lokal yang sebagai penghasil minyak bumi aspek sosial,ekonomi, kesehatan, dan lingkungannya dominan masih berada pada kondisi memprihatinkan?

Dimana hati nurani para penyelenggara negara di Kota Prabumulih ini ketika keadilan tidak dapat dirasakan komuniti lokal yang turut membangun Prabumulih ini dengan ‘emas hitam’ dari daerah mereka.

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) yang berada di jalan lingkar, bukan jaminan bagi komunitas lokal penghasil minyak bumi untuk untuk lepas dari kesulitan ekonomi sehingga mampu membeli makan yang bergizi untuk anak-anaknya, dan bantuan sesaat dari PT Pertamina dalam bentuk program sehat ibu dan anak (sehati) yang lebih dominan sebagai wujud ‘CSR Peduli’ dinilai masyarakat lokal (kelurahan/desa) secara potensial belum mampu mengatasi permasalahan gizi buruk di daerah mereka.

Pemerintah Daerah dan WAJIB bertangung jawab untuk menigkatkan kualitas Kesehatan dan kehidupan masyarakat Karang Jaya sebagai mana amanat Undang Undang No 23 Tentang Kesehatan.

Demikian juga dengan PT Pertamina EP Region Sumatera yang mengeksploitasi kekayaan alam didaerah mereka turut berkewajiban bertanggung jawab terhadap dan kondisi social ekonomi, kesehatan dan lingkungan di Karang Jaya sebagaimana amanat Undang Undang No. 22 Tahun 2001 Tentang Minyak dan Gas Bumi. ***

(Penulis: Okto Rano, pemerhati masalah lingkungan di Prabumulih. Aktif di Jaringan Pengembangan Masyarakat, Jl. Talang Jimar No. 39 Prabumulih - Sumatera Selatan, 31123. kontak penulis: jaringanpm@yahoo.co.id




Saturday, September 1, 2007

Butuh Seri Cerita dan Sastra Dunia?



Sekadar berbagi info pandak. Sekiranya warga dusunlaman bermaksud mencari atau membutuhkan seri cerita dan sastra dunia, sebut saja di antaranya sebagai berikut...

  • The Adventures of Huckleberry Finn, dan The Adventures of Tom Sawyer, karya Mark Twain,
  • Great Expectations dan A Tale of Two Cities, karya Charles Dickens,
  • Anna Karenina, Karya Leo Tolstoy
  • Aesop's Fables, Karya Aesop,
  • Beyond Good and Evil, Karya Friedrich Nietzsche,
  • dan masih banyak lagi yang lainnya.


Cerita-cerita atau karya sastra para penulis dunia ini tersedia dalam bentuk buku elektronik (eBooks) berformat pdf. Kesemua eBooks dapat diunduh gratis (free download) di situs planetpdf.

Beberapa cerita lain yang juga bisa diunduh di situs ini di antaranya:



Untuk mencari yang lainnya, selamat berayau di situs yang menyediakan layanan segala tentang pdf ini.

Tulisan hampir senada juga saya muat di:






banner8.gif