Wednesday, August 15, 2007

Ragam Bahasa Sumatera Selatan

"Apa kabar, Wong kito galo?" sambut beberapa teman tatkala saya bertemu mereka, entah di Bogor, entah di Jakarta.

Kalau sedang nyinyir, saya sambut sapaan itu dengan, "Bukan wong kito galo. Saya bukan orang Palembang. Saya kan orang Prabumulih, jadi wang (kadang; uhang) kite gale!"

Lho, beda?

Terang saja berbeda. berpanjang-panjanglah saya jelaskan ada banyak sekali ragam bahasa (daerah) yang hidup di tanah Sumatera Selatan (Sumsel). Bahasa Palembang, hanya salah satunya. Ada bahasa Ogan, Komering, Musi, Lematang, dan lain sebagainya.

Berapa banyak?

Sampai di sini, saya 'terpaksa' membual. Saya sebut sembarang angka, 385 bahasa daerah. Itu belum termasuk logat.

Sebenarnya, saya tidak tahu berapa persisnya jumlah bahasa (dearah)di Sumsel. Tapi angka tiga ratus delapan puluh lima jadi lekat dan kerap saya sebut dalam banyak kesempatan. Atau, barangkali memang belum ada yang telah melakukan penghitungan terhadap hal ini. Boleh jadi, Prof. Amran Halim, mantan Rektor Universitas Sriwijaya yang ahli bahasa itu sudah meneliti dan mengetahui jumlah bahasa daerah di Sumsel.

Namun yang pasti, meski hasil bualan, belum pernah ada yang membantah angka yang sembarang saya sebut itu. Padahal bukan angka cantik :-D []




Saturday, August 11, 2007

Picasa: Software Olah Foto Yang Saya Suka

Bagi yang suka fotografi dan olah foto (re-touch) saat ini tersedia banyak piranti lunak (software) olah foto. Mulai dari yang harus beli hingga software gratisan.

Saya biasa memakai keduanya, Adobe Photoshop (seri 7.0 dan CS2)
serta Picasa.



Hasilnya bisa dilihat di My Jpret (my Slide) yang ada di halaman depan blog ini, atau di flickr.

Belakangan saya lebih suka menggunakan picasa karena software ini berkapasitas kecil, jadi tidak memakan banyak tempat di hardisk komputer kita. Selain itu software ini mudah digunakan.



Piranti olah foto digital gratisan ini bisa dicari di mesin pencarian google. Selanjutnya tinggal menginstalnya ke komputer anda.

Nah, Selamat mengolah foto.






Friday, August 10, 2007

Gerakan Masyarakat Sipil Prabumulih

Oleh: Syam Asinar Radjam

Ada yang menarik jika menengok perkembangan masyarakat sipil di kota Prabumulih, Sumatra Selatan. Terutama, akhir-akhir ini. Masyarakat Prabumulih telah membuktikan bahwa rakyat memiliki kekuatan: suara rakyat.

Tengok saja apa yang telah dicapai oleh para pedagang di Pasar Inpres Prabumulih. Perjuangan mereka menolak rencana pembangunan pusat perbelanjaan (Prabumulih Mal) yang akan dibangun di depan pasar tempat mereka berdagang, berhasil. Walikota Prabumulih Rachman Djalili, yang baru beberapa hari kembali bertugas, setelah sempat dinonaktifkan dari jabatannya terkait dugaan korupsi, menyetujui lokasi pembangunan mal dipindahkan ke tempat lain.

Perlu disadari, dipindahkannya lokasi Prabumulih Mal tersebut bukanlah hasil perjuangan pejabat pemerintah kota. Melainkan hasil perjuangan pedagang sebagai komponen masyarakat sipil di kota Prabumulih. Masyarakat atau rakyatlah aktor utama dalam kasus ini. Suara rakyatlah yang menjadi kekuatan utama.


Menengok satu tahun ke belakang, suara rakyat Prabumulih juga telah berhasil mengusung isu tata ruang dan korupsi di kota Prabumulih. Isu ini dimotori oleh Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Prabumulih yang belakangan disusul oleh berbagai elemen lainnya, bahkan elemen mahasiswa di Palembang.

Gerakan ini membuat kasus penggelembungan dana proyek pembangunan gedung perkantoran Pemerintah Kota Prabumulih yang berlokasi Desa Pangkul mencuat ke permukaan. Pada gilirannya, proses hukum terhadap sejumlah pejabat yang ditengarai terlibat dalam tindak pidana korupsi pada proyek tersebut dilangsungkan.

Salah satu pejabat yang sempat menjalani proses hukum atas kasus ini adalah Walikota Prabumulih, Rachman Djalili. Pada gilirannya, Rahman sempat dinonaktifkan selama 1 tahun dari jabatannya.

Rahman, yang menjabat ketua dalam proyek bernuansa korup ini memang dinyatakan tidak bersalah oleh pengadilan. Bawahannya, Sulaiman Kobil sang Pimpinan Proyek sekaligus Kasubag Pemerintah Pemkot Prabumulih, dinyatakan bersalah serta harus menjalani hukuman 4 tahun bui.

Barangkali masih tersisa pertanyaan bagaimana mungkin seorang yang hanya ‘bawahan’ dapat ‘bermain’ tanpa keterlibatan pejabat yang berwenang di atasnya. Namun yang lebih penting, sekali lagi suara rakyat Prabumulih telah membuktikan kekuatannya.

Mundur ke masa yang lebih lampau, suara rakyat Prabumulih pernah merebut kemenangan bagi “hak atas lingkungan hidup”. Setelah, selama kurun waktu setengah abad Sungai Kelekar menjadi tempat pembuangan limbah aktivitas pengeboran minyak Pertamina di Prabumulih.

Pada tahun 2000, masyarakat Prabumulih melakukan serangkaian aksi meminta pertanggungjawaban Pertamina untuk menghentikan pencemaran Sungai Kelekar. Didampingi sejumlah organisasi lingkungan baik lokal, regional, nasional, ditambah dukungan sejumlah organisasi lingkungan internasional, masyarakat Prabumulih berhasil membuat Pertamina bertekuk lutut dan mengakui kesalahannya.

Hasilnya, selain menghentikan pembuangan limbah cair ke sungai Kelekar, Pertamina juga menyetujui beberapa tuntutan masyarakat. Di antaranya, rehabilitasi sungai, penghijauan di sepanjang DAS kelekar, bahkan pemberian beasiswa, pembangunan sejumlah fasilitas umum, dan serta beberapa ‘kemenangan kecil’ lainnya.

Organisasi lingkungan di tingkat lokal yang mendampingi masyarakat Prabumulih kala itu adalah Solidaritas Peduli Lingkungan Prabumulih (SPLP). Organisasi ini telah dibubarkan setahun sejak tuntutan masyarakat dipenuhi Pertamina. Organisasi di tingkat regional di antaranya, Yayasan IMPALM, WALHI Sumatera Selatan, dan LBH Palembang. Sementara di tingkat nasional dan internasional, kasus ini mendapat dukungan dari sejumlah organisasi di antaranya, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Friends of the Earth, Mining Advocacy Network, dll.

Dengan tanpa menihilkan peran organisasi-organisasi tersebut, kemenangan masyarakat Prabumulih dalam kasus Sungai Kelekar juga merupakan bukti kekuatan suara rakyat.

Selain 3 contoh kasus di atas, masih ada serangkaian bukti lain yang memperlihatkan bahwa suara rakyat adalah kekuatan utama di Prabumulih.

Dalam banyak kasus perburuhan, ketenagakerjaan, gerakan buruh menorehkan keberhasilan tersendiri. Walaupun belum sampai pada tingkatan yang luar biasa, misalnya mendorong terbitnya peraturan daerah yang melindungi hak-hak buruh di Prabumulih, aksi-aksi buruh yang didampingi oleh Serikat Buruh Bersatu Prabumulih (SBBP), berhasil memperjuangkan kasus-kasus pemutusan hubungan kerja dan hak-hak normatif, serta pelanggaran dalam hal pengupahan.

Di sisi lain, suara rakyat Prabumulih juga pernah berhasil mencatatkan proses penerimaan calon pegawai negeri sipil yang jujur sebagai persoalan penting. Isu ini diusung oleh Mulan Komunitas pada tahun 2005. Mulan Komunitas juga turut andil dalam gerakan pendidikan pemilih menjelang Pemilu 2004.

Barangkali masih banyak lagi gerakan-gerakan masyarakat sipil di Kota Prabumulih yang belum terekam dalam tulisan singkat ini.

Potensi atau Ancaman?
Gerakan masyarakat sipil yang bermunculan di Prabumulih sebenarnya mencerminkan adanya inisatif warga kota Prabumulih untuk berpartisipasi membangun kotanya. Berarti, ini sama sekali bukan berarti ancaman. Pemerintah Kota Prabumulih harus melihatnya sebagai potensi.

Komponen-komponen masyarakat sipil perlu dilibatkan dalam proses pembangunan. Pelibatan mereka ditampung dalam sebuah proses fasilitasi agar inisiatif dan kehendak mereka dapat diakomodasi, disalurkan, dan dimanfaatkan demi kemaslahatan bersama. Fasilitasi di sini sama sekali tidak berarti pemberian fasilititas atau pemberian ‘proyek-proyek’. Tetapi berarti memberikan tempat atau ruang agar ‘suara-suara’ yang didengungkan beragam komponen masyarakat sipil menjadi sumbangsih dalam pembangunan. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi terhadap program pembangunan yang dilakukan pemerintah kota.

Kemana Gerakan Masyarakat Sipil Prabumulih Semestinya Bermuara?
Disadari atau tidak, suara rakyat yang bergema dari beragam gerakan masyarakat sipil di kota Prabumulih, diincar oleh banyak pihak. Terutama, tentu saja, menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang akan berlangsung tak sampai satu tahun lagi.

Komponen masyarakat sipil, sesegera mungkin harus menyadari potensinya. Ia harus mampu mengambil tempat dan berpartisipasi dalam pembangunan. Sekali lagi, partisipasi disini bukan berarti ‘meminta proyek’ dari pemerintah kota atau dari pihak yang didukung.

Partisipasi berarti mengambil ruang untuk terlibat dalam perencanaan anggaran, penyusunan peraturan-peraturan daerah, mupun melakukan kritik membangun dan evaluasi terhadap pencapaian pembangunan yang sedang atau pun telah dilakukan oleh pemerintah kota.

Momentum terdekat untuk menguji apakah pemerintah kota memberikan ruang partisipasi bagi masyarakat Prabumulih adalah menjelang berakhirnya masa jabatan walikota dan wakil walikota Prabumulih. Komponen masyarakat sipil Prabumulih sedianya sudah mulai mengumpulkan catatan kegagalan dan catatan keberhasilan pasangan pemimpin kota ini dalam 5 tahun masa jabatannya sebagai bahan evaluasi.

Di samping itu, komponen masyarakat sipil Prabumulih mesti mawas diri terhadap tindak-tanduk para kandidat yang akan muncul dalam pertarungan PILKADA. Jangan sampai dimanfaatkan untuk kepentingan sesaat. Komponen masyarakat sipil dapat mengambil peran dalam pendidikan pemilih (voter education). Maksudnya, memberikan pendidikan kepada masyarakat kota Prabumulih sehingga memiliki kesadaran kritis dalam memilih calon walikota maupun calon wakil walikota yang akan datang.

Salah satu yang dapat menjadi sasaran pendidikan adalah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menolak jual-beli suara atau politik uang (money politic), sebagaimana ditengarai marak pada proses Pemilu Legislatif 2004. Masyarakat harus disadarkan bahwa suara yang mereka berikan lebih mahal ketimbang satu karung beras ‘Cap Rangkong’.

Monday, August 6, 2007

Turnamen Gasing Tradisional Prabumulih 2007

Sanaks,

Mulan Komunitas Prabumulih kembali bersiap menyelenggarakan Turnamen/Kejuaraan Gasing se-Kota Prabumulih. Pergelaran budaya yang telah menjadi kalender tahunan Mulan komunitas ini direncanakan berlangsung 17-18 Oktober 2007, bertempat di bekas lapangan tenis dusun Prabumulih.

"Seharusnya, sesuai kalender musim tradisisional, permainan gasing diramaikan sekitar musim pembakaran ladang atau yang biasa disebut penunuan ume," tutur Hendratno Roi, salah satu panitia inti Turnamen Gasing Prabumulih 2007 kepada dusunlaman.

Tapi mengingat musim penunua terlalu dekat dengan bulan puasa, Mulan Komunitas menunda penyelenggaraannya hingga seusai lebaran idul fitri.

"Jadi, udeh riaye, jangan lupe nyubok uhang ngadu gasing. Bedindang atau bepangkahan." lanjut Hendra dalam bahasa Prabumulih yang berarti "Jadi, usai hari raya (idul fitri), jangan lupa menonton orang mengadu gasing. Bedindang (adu lama putaran) atau pangkahan (mengadu badan gasing).

Sayang sekali dusunlaman tidak mempunyai satu pun dokumentasi berupa gambar atau video turnamen-turnamen gasing sebelumnya. Semoga teman-teman Mulan Komunitas dapat berbagi dokumentasi kepada dusunlaman di kemudian hari.

Dari hasil 'berayau' di situs youtube, dusunlaman menemukan sejumlah video permainan gasing di beberapa tempat. baik dari Indonesia maupun Malaysia. Di antaranya sebagai berikut:

Permainan gasing di Kelantan, Malaysia



Permainan gasing raksasa di Bangka Belitung





Anak-anak main gasing

Sunday, August 5, 2007

Duku [Bagian 4]

Duku [Bagian 4]
Cerita Pendek K. Usman

Sebelumnya

Alhamdulillah, walaupun lagi ngambek, Mimin mau salat Subuh berjamaah denganku. Ia menciumku seusai kami berdoa khusyuk. Susu hangat dan roti selai nanas disiapkannya di meja makan. Setelah itu, dia naik ke ranjang dan tersedu-sedu. Aku jadi serba salah.

Mumpung masih pagi, harga pulsa belum mahal, kuhubungi saudara dan kawan-kawan dekat. Terakhir kutelepon Bunda di Prabumulih. Aku minta dicarikan duku Palembang. Kalau ada buah duku salah musim, atau buah sela, tolong segera kirim dengan titipan kilat ke Jakarta. Semua orang yang kutelepon tertawa terbahak-bahak, mengejekku.

”Mana ada duku Palembang di musim begini, Bung Gindo, ha ha ha,” kata Ir. Tama sahabatku yang bertugas di kabupaten Muara Enim, salah satu daerah yang banyak memiliki kebun duku rakyat.

Rakhmani, S.H., seorang hakim di Palembang, teman dekatnya di SMA dulu, yang seperti saudara setelah dia menikah dengan seorang perwira menengah TNI Angkatan Laut, pun terkekeh-kekeh. Mas Arifin, suaminya, ikut ngomong, dan terbahak-bahak. ”Dik Gindo lagi mimpi setelah usai salat Subuh, yo?” tanya Mas Arifin. Nggak ada duku Palembang. Musim orang lomba ngomong kan sekarang? Bukan musim duku, Dik.”

Adik-adikku di Prabumulih, salah satu pasar di kota tambang minyak, juga menyerah. Mereka bilang, buah salah musim pun tak tampak di pasar. Kota mana lagi yang harus kuacak-acak lewat telepon di pagi begini? Halimi di Martapura, wong suku Komering, staf hubungan masyarakat kukontak. Dia adalah seniorku waktu kuliah di Perguruan Tingi Publisistik. Abang Hal ini sudah seperti kakak bagiku. Gila! Dia lagi ’bobo-bobo pagi’ dengan Kak Syamsiah seusai salat Subuh.

”Kau ini ada-ada saja, Dik Gindo, ha ha ha, tahu nggak abangmu lagi subuk dengan Kakakmu. Ada apa? Duku Palembang? Istrimu pasti lagi ngidam, ya? Benar. Martapura memang ‘lumbung’ duku kalau lagi musim, dik. Tapi, sekarang kosong. Tapi, nanti aku cari, ya. Salam dulu buat binimu, tu.”

“Maafkan aku, Bang. Sampaikan pada Kak Syam, teruskan ’bobo-bobo pagi—nya,” kataku sambil menahan tawa. Tawa suami-istri itu sempat kudengar di telepon.

Terakhir kutelepon Bunda. Beliau masih berzikir di atas sajadah sejak usai shalat Subuh. Lembut dan membelai suaranya. Hati jadi sejuk. Sejak Ayah berpulang lima tahun silam, Bunda makin khusuk shalat, berdoa, dan zikir.

”Sayangku, Sulungku,” sambutnya, ”di mana Bunda harus mencari obat ngiler itu? Lagi tidak musim duku Palembang sekarang, Nak. Ya, Bunda akan cari sambil mengerahkan adik-adik, ipar-ipar, dan kemenakanmu yang kini sudah 35 jumlahnya itu. Bagaimana Mimin, menantuku? Bunda doakan, dia sehat-sehat selalu, ya?”

Bunda mencemaskan bila cucu pertama dari si sulungnya ngiler. Kata Bunda, ngiler sampai dewasa termasuk aib bagi keluarga, bukti ketidakmampuan orang tua, atau semacam kemalasan berusaha. Aib bagi keluarga? Aku bertanya setelah meletakkan gagang telepon. Kubayangkan putra-atau putriku ngiler sampai remaja. Kemana-mana dia membawa tisu atau saputangan untuk menadahi ilernya yang meleleh ke dagu. Benar juga kata Bunda, kalau betul-betul itu terjadi. Itu aib bagi keluarga. Tapi kalau duku Palembang memang sedang tidak musim, mau apa?

Semasa aku kecil, bila musim duku di kebun Laham, atau di seberang sungai Lematang, Kakek Muk memanggil anak-cucu untuk panen duku bersama. Pernah sekali, aku naik sebatang duku. Tiba di atas, kuguncang sebuah dahan yang lebat duku berwarna kuning keabuan. Maka runtuhlah ratusan duku. Berdebuk-debuk bunyi di atas daun-daun yang membusuk dan lebat karena lamanya. Orang tuaku, kakek, nenek, paman, bibi, semua sepupuhku heboh. Mereka bilang, cara panen duku seperti yang kulakukan itu salah besar. Buah duku akan pecah atau memar. Lalu, Paman Sub, anak kakek yang bungsu memberi contoh. Ia naik sambil membawa karung goni dan keranjang rotan yang diberi tali panjang. Setelah kedua tempat itui penuh oleh duku, dia turunkan perlahan-lahan disambut riuh-rendah anak-anak.

Saturday, August 4, 2007

Tentang Kelamin, Kemaluan, dan Barang Berekor yang Jahat

Oleh : Pulung Amoria Kencana

Mohon jangan terburu nafsu dan menjadi salah paham. Anda barangkali akan segera tersenyum simpul atau mungkin terpancing untuk bersumpah serapah demi membaca judul yang telah saya sajikan di atas sana.

Busyet, dah ini orang... Bikin judul ato judul, yak?! Ha ha! Sesungguhnya sayalah yang pertama kali terkaget-kaget mendengar kata-kata di atas berseliweran bebas di dalam percakapan anggota keluarga "baru" saya, keluarga calon suami saya yang kebetulan adalah seorang asli Prabumulih.

Waktu itu, sepertinya kami, saya dan pacar saya (sekarang suami) sedang bersiap untuk berangkat pergi dari rumah kami di Prabusari, Prabumulih, menuju ke suatu tempat entah kemana, saya lupa. Tiba-tiba seorang tua (barangkali paman, saya juga lupa) berteriak kira-kira begini, bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia: "Hei, hendak kemana itu dua kelamin?"

?". Saya terpukau. Takjub dengan apa yang baru saja saya dengar. Antara merasa bingung dan hendak tertawa geli, saya memandangi pacar saya itu... minta penjelasan! Anda tentu bisa membayangkan rasanya mendengar kata "dua kelamin" yang diucapkan dengan santai sebagai sebutan untuk dua orang lain yang sedang berjalan bersama, bagi seorang yang bukan asli Prabumulih!

Dengan tertawa-tawa, akhirnya saya mendengarkan penjelasan tentang pemakaian kata kelamin untuk kata penunjuk satuan jumlah orang yang biasanya sepasang! Kenapa kelamin? tanya saya takjub. Padahal jawabannya sungguh sederhana: Itulah
bahasa! dan ini Bahasa Melayu, lho... artinya jangan-jangan malah inilah aslinya cikal-bakal Bahasa Indonesia. Kenapa kelamin? Kenapa enggak?

Belum selesai rasa geli saya ketika pada kesempatan yang lain saya mendengar sebuah kalimat lucu yang lain. Pada telinga saya yang awam kira-kira bunyinya begini: :"Apa nggak
kemaluan itu orang pake baju model begitu"... Ha ha ha! Kemaluan! O... kata-kata itu...

Saya ngakak! Sungguh ngakak mendengarnya. Ini memang bahasa khusus (barangkali)
Prabumulih. Dan akhirnya saya sungguh menikmati belanja telinga saya yang mendapatkan cara penggunaan kata seperti 'kelamin' dan 'kemaluan' yang tidak diucapkan dalam konteks tabu atau negatif. Sesuatu yang bukan sedang memaki atau bahkan bukan juga sedang membicarakan tentang "alat kelamin" yang biasa kita sebut dengan "kemaluan".

Selanjutnya, saya mendengar calon kakak ipar saya waktu itu sedang menghitungi berapa jumlah piring rusak setelah dipakai dalam acara makan-makan saat lebaran: "Ini
jahat... Ini juga jahat... Ini nggak... Ini bagus... Coba itu berapa ikok (ekor) yang jahat?" Hah? Piring jahat? Ada berapa ekor? Huahahaha.....

Lengkaplah sudah belanjaan
Bahasa Prabumulih saya. "Kelamin" dan "kemaluan" yang bebas bergentayangan, dan barang-barang ber"ekor" yang bertampang "jahat". Ha ha ha.

Ini adalah oleh-oleh paling menarik yang bisa saya bawa pulang ke Jakarta. Oleh-oleh yang masih bisa menerbitkan tawa kami berdua (saya dan mantan pacar saya itu/ sekarang suami).
Saya masih menunggu waktu untuk bisa pulang lagi ke
Prabumulih, kampung suami saya itu, dan belanja banyak istilah dan kebiasaan unik yang bisa memperkaya kita semua.

Sekarang saya anggota
'Darmawanita Prabumulih'... Artinya perempuan non-Prabumulih yang menikah dengan penduduk asli Prabumulih, dan saya selalu menikmati bebunyian dari mulut suami yang sedang bertelepon dengan kerabat dan handai-tolan sekampungnya.

Apa artinya? Kau tadi cerita apa? Itu pertanyaan saya selalu.[...]

LeBul, 4 Agustus 2007
Catatan Seorang Perempuan Pejalan Yang Menikah dengan Seorang Asli Prabumulih

Thursday, August 2, 2007

Hasil SPMB Unsri

Barangkali ada di antara saudara atau keponakan Anda yang mengikuti SELEKSI PENERIMAAN MAHASISWA BARU (SPMB) dengan pilihan Universitas Sriwijaya (Unsri), Palembang.

Nah, jika ada yang ingin mengetahui hasilnya, hari ini pengumuman hasil SPMB Universitas Sriwijaya dapat dilihat di harian Umum Sriwijaya Pos (4 Halaman; 4, 6, 7, 9).

[]



banner8.gif