Sunday, June 17, 2007

Kandidat Wako dan Wawako Prabumulih ”Berat Ujung”



Pemilihan Kepala Daerah di Prabumulih belum lagi dimulia. Masih lama. Namun, tampaknya para kandidat calon sudah ’berat ujung’. Dilansir dari Sriwijaya Post (Jumat, 15 Juni 2007), orang-orang yang berkeinginan menjadi orang pertama dan kedua di kota minyak ini mulai pamer muka. Pamflet dan stiker bergambar foto masing-masing kandidat tersebar di sejumlah sudut kota. Fasilitas-fasilitas umum, meliputi tiang listrik, pagar sekolah dan perkantoran, dinding bangunan ruko, pun jadi korban vandalisme. Pasti tambah rusak pemandangan kota yang belum tertata ini.

Sementara itu Ketua KPUD Prabumulih, Drs H Syamsuddin Burhasin bersama para anggota lembaga tersebut malah menyilahkan saja aksi ”curi start” para kandidat yang mulia berat ujung tersebut. Syamsudin mengaku tak bisa menanggapi apalagi menindak dengan alasan proses pilkada belum dimulai.

[komentar dusunlaman]
Justru kalau pilkada sudah dimulai, makin sulit ditindak.[syam]

Sembilan Sungai, Batanghari Sembilan

Propinsi Sumatra Selatan (Sumsel) dialiri banyak sungai besar. Salah satunya, sungai Musi yang berhulu di gugusan Bukit Barisan dan bermuara di laut tepian pantai Timur Sumatra ini. Karena terdapat 8 sungai besar yang menjadi anak sungai Musi, maka Sumsel di sebut juga Tanah Batanghari Sembilan atau Tanah Sembilan Sungai.

Mendengar kata batanghari sebagian orang akan mengaitkannya dengan nama sungai yang membelah kota Jambi, sungai Batanghari. Namun, Batanghari Sembilan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan sungai terbesar di propinsi tetangga Sumsel itu. Batanghari dalam beberapa bahasa lokal di Sumsel, misalnya saja bahasa Rambang (Prabumulih), berarti sungai. Bersinonim dengan kali (Jawa) atau river (Inggris).

Kesembilan sungai yang termasuk batanghari sembilan dari hulu hingga ke hilir adalah:

  1. Sungai Musi,
  2. Sungai Batanghari Leko,
  3. Sungai Lalan.
  4. Sungai Lakitan
  5. Sungai Kelingi,
  6. Sungai Rawas,
  7. Sungai Lematang,
  8. Sungai Ogan, dan
  9. Sungai Komering.


Acapkali daftar susunan kesembilan batanghari anak sungai Musi berbeda dengan daftar di atas. Amar Lubay di blognya memasukkan sungai Enim dan sungai Rambang ke dalam daftar, menggantikan sungai Batanghari Leko dan Lalan.

Sekadar catatan, Sungai Enim yang membelah kota Muara Enim bukan anak sungai Musi. Lebih tepat disebut sebagai ”cucu”sungai Musi, mengingat sungai Enim bermuara di sungai Lematang. Pun demikian dengan sungai Rambang yang terdapat di tepian kota Prabumulih. Sungai Rambang berakhir di sungai Ogan.

Jika daftar sembilan batanghari yang terdapat di atas belum tepat, bolehlah pembaca memberikan koreksi.[]

Saturday, June 16, 2007

Jus Kemang!

Jus Kemang!

Syam Asinar Radjam [dusunlaman]

Ada yang membuat kunjungan saya ke Bogor beberapa bulan lalu (28/02) berbeda. Jus buah kemang!

Kemang (Mangifera kemanga caecea) bukanlah buah asing bagi saya. Sejak kecil saya mengenal buah yang berkerabat dengan mangga (Mangifera indica) ini. Tapi, kali pertama menikmatinya dalam bentuk jus atau sari buah, ya baru saat itu.

Di kampung kelahiran saya, buah ini sangat populer. Bukan hanya karena ada dua tempat yang namanya berasal-usul dari nama buah ini (bawah kemang, dan kemang tanduk). kemang paling populer untuk dibuat sambal. Daging buah kemang yang matang dicacah, dibumbui cabai, garam dan sedikit terasi. Disajikan sebagai sambal mentah maupun sedikit ditumis sama enaknya. Apalagi bila disantap bersama gulai atau pindang ikan patin. Wuiiih...


Konon di beberapa daerah, daging buah kemang yang matang dijadikan asinan dan diawetkan dalam garam, dan disimpan dalam botol untuk membuat sambal jika tidak sedang musim buah. Serupa dengan mengawetkan duren menjadi tempoyak.

Ada sebagian orang, termasuk saya menyukainya untuk disantap selayaknya buah segar. Rasanya fantastis. Di balik kesegarannya dan keharuman khasnya, campuran rasa asam, manis, dan kelat bermain di lidah. Sensasi rasa asamnya bisa bertahan selama beberapa jam di gigi.

Tapi jangan mencoba buah yang bentuknya lonjong hampir bulat telur ini jika buahnya masih mentah. Getah kemang muda tergolong "tajam" dan dapat menyebabkan jika tersentuh kulit. Rasanya mirip seperti luka bakar.

Dibanding keluarga mangga yang lainnya, kemang memiliki kulit yang tipis (1 mm). ketika masih muda, si kulit tipis ini berwarna coklat pucat atau kadang kekuningan, lalu berubah menjadi agak kuning cerah agak kehijauan serta lebih mengilap ketika matang. Daging buahnya berwarna putih susu, bertekstur lembut serta berserat sedikit.

Menanti kemang berbuah adalah salah satu keasyikan tersendiri. Terutama ketika bayangan merah jambu bunganya memantul di permukaan air sungai nan jernih. Kebetulan sebatang pohon yang kemang yang berdiri tegak lurus, tinggi meraksasa, tumbuh di tepi sungai tak jauh dari rumah orang tua saya. Tepatnya di "jerambah kuning, satu tempat pemandian yang berada di aliran sungai jambat teras.

Saya tidak tahu apakah saat ini pohon kemang itu masih berdiri di sana. Yang pasti, jus kemang di salah satu kantin yang berjejer di sayap kiri lapangan Sempur Bogor telah mengingatkan saya pada salah satu buah favorit saya ini. Sampai-sampai, dalam perjalanan pulang kembali ke Jakarta, saya membeli 2 kilo kemang mengkal yang banyak dijual di stasiun Merdeka Bogor. Berharap menikmati jus kemang di rumah, sebanyak yang saya hasratkan.

Sesampai di rumah, saya baru sadar. Kami belum punya juicer atau blender sekalipun.[]

Monday, June 4, 2007

Kesenian Prabumulih: Organ Tunggal

Syam Asinar Radjam [dusunlaman]

Menengok resepsi perkawinan adalah salah satu cara praktis untuk mengetahui aktivitas kesenian setempat. Lalu, kesenian apa yang hidup di Prabumulih atau bahkan seantero Sumatra Selatan? Jawabannya, budaya organ tunggal dengan ajeb-ajeb house music.

Dalam perayaan-perayaan yang masih berani menampilkan kemasan adat ke-Palembang-an, organ tunggal memang telah menyusup bahkan berurat akar. Memang jika kebetulan kondangan ke resepsi pernikahan di tanah Sumatra Selatan kita akan menyaksikan kedua mempelai mengenakan pakaian adat yang disebut penganggon. Mempelai perempuannya akan didandani cantik dengan sunting aisan melekat di kepala. Keluarga kedua mempelai akan berhias dengan mengenakan baju kurung dan kain songket.

Aneka makanan tradisional pun dipergelarkan, sebut saja empek-empek, tekwan, malbi, dan kue-kue misalnya maksuba, engkak ketan, bolu empat belas jam, srikaya, dan lain sebagainya.

Tari Tanggai dipergelarkan menyambut tetamu. Lagu-lagu rakyat didendangkan. Tapi, khususnya tarian dan nyanyian hanya sebatas ritual di awal acara. Selebihnya, dentum musik selayaknya di diskotik. Apapun jenis lagunya, iramanya... house music. Hajar... Mang!

Kembali menyoal kesenian, ia adalah sesuatu yang hidup di dalam masyarakat. Ia bukan semata-mata jenis dan model pakaian apa yang dikenakan, lagu apa yang dinyanyikan, tarian apa yang digerakkan, makanan apa yang disajikan. Sekali lagi kesenian adalah sesuatu yang hidup, tumbuh, dan berkembang bersama dinamika masyarakat di suatu tempat. Ia dan tata cara dalam hidup memiliki hubungan timbal balik. Ia jugalah yang memengaruhi dan dipengaruhi oleh nilai yang ada di suatu komunitas.

Dan organ tunggal bukan hanya telah merebut tempat teratas dari kesenian yang di Prabumulih. Ia bahkan telah memenangkan, menyingkirkan aneka kesenian yang sebelumnya ada. Seusai romantisme terhadap segala ritual diselenggarakan, ia memainkan peranan penting hingga pesta usai. Organ tunggal mampu menarik anak-anak muda dan paruh baya di resepsi pernikahan untuk berapresiasi, naik ke panggung lalu menyanyikan lagu Jablai atau SMS dengan irama house music. Tembang-tembang yang pernah dipopulerkan Pance Pondaag, Meriam Belina, Dian Piesesha pun dinyanyikan dengan irama house music.

Organ tunggal pula-lah yang mampu menjerat tetamu untuk tetap di tempat, sekalipun tak jarang karenanya pesta pernikahan dilangsungkan dari pagi hingga tengah malam. Jika para tetamu ini diibaratkan mesin, maka organ tunggal adalah engkol yang terus menerus memicu agar energi pada mereka terus terbangkitkan. []

Saturday, June 2, 2007

Kecintaan K Usman Pada (dusunlaman) Prabumulih















Foto: Yang tua dan yang muda, K. Usman dan Vinda Swasthipadma di PDS HB. Yasin, Cikini, Jakarta.




Syam Asinar Radjam [dusunlaman]

“Untuk Prabumulih dan untuk anak Ayah, apapun pasti Ayah izinkan,” suara pengarang tua kelahiran Dusun Tanjung Serian, Muara Enim, 67 tahun lalu, terdengar hangat.

Hari itu, (14/04/07) saya sengaja menghubunginya pengarang yang dibesarkan di Prabumulih, Sumsel ini. Karena, sehari sebelumnya saya menemukan 5 judul buku yang ditulis beliau.

Buku-buku yang terhitung tua. Salah satunya, Deru Ombak di Tebing Karang (Balai Pustaka, 1963). Buku yang bertahun cetak paling muda, Ada Taman di Kotaku (Kurnia Esa, 1978). Yang terakhir ini, salah satu karya beliau yang saya idamkan bertahun-tahun. Kenapa saya begitu terobsesi terhadap buku ini, sampai-sampai memasuki padang-padang perburuan buku bekas, akan saya ceritakan di tulisan lain.

Kegembiraan saya meluap-luap, lantaran 5 buku ini menambah perbendaharaan di perpustakaan kecil di rumah. Padahal, keseluruhan karya K Usman yang saya koleksi baru seujung kuku dibanding total buku yang telah ia tulis. Paling tidak 203 buku karya K Usman telah diterbitkan. Jumlah itu akan terus bertambah, mengingat beliau adalah penulis yang tetap produktif di masa tuanya.

Tampaknya, kabar yang saya sampaikan melalui telepon menularkan kegembiraan yang sama kepada K Usman. Sebab, beliau sendiri kehilangan sejumlah buku karangannya. Saat ini beliau sedang mengumpulkan kembali satu per satu buku yang ia tulis. Kebetulan, dua judul buku yang saya temukan termasuk daftar buku yang ia buru. Judul buku yang dimaksud adalah sebuah fabel berjudul Bersatu Padu Mengalahkan Musuh (Bas Djaya, tanpa tahun) dan ehm... “Ada Taman di Kotaku”. Untuk itu, beliau meminta saya untuk mengopi keduanya.

Tiba-tiba saya teringat satu gagasan yang pernah muncul di milis dusunlaman. Saya lupa siapa penggagasnya. Bisa jadi Kak Topan Reda Hasanudin, boleh jadi Kak Yulius Hendra Hasanudin. Yang pasti, gagasannya adalah menampilkan cerita-cerita karya K Usman di blog dusunlaman.

Kepada K Usman, saya memperkenalkan blog dusunlaman. Sebuah situs maya “keroyokan” yang diniatkan sebagai media berbagi informasi bagi semua warga Prabumulih. Tak lupa meminta izin beliau agar diperbolehkan menulis ulang sejumlah karyanya lalu ditampilkan di blog dusunlaman. Terutama, cerita-cerita yang mengambil setting/latar di Prabumulih.

Gayung bersambut! Beliau antusias dan membolehkan. Seperti yang diucapkan beliau “Untuk Prabumulih... Apapun Ayah izinkan.”

“Ruwatan” menulis ulang buah kecintaan K Usman pada (dusunlaman) Prabumulih akan menjadi sajian utama di blog dusunlaman. []

Warga Dusunlaman #1



Salah satu tukang kebun di blog dusunlaman ini adalah Syam Asinar Radjam. Ia seorang Prabumulih, penyuka wacana lingkungan, penulis lepas, comic writer yang juga senang memotret.

Bersama Pulung Ria (guru taman kanak-kanak yang senang menulis puisi), Syam juga mengelola blog softTEXT. Di blog ini dapat dibaca tulisan Syam dan Ria berupa kiat menulis naskah komik (comic's script), puisi, opini lingkungan, dan tulisan ringan lainnya.

Friday, June 1, 2007

Ironi dan Komedi Lumbung Energi Nasional

Syamsul Asinar Radjam dusunlaman

Dalam pemahaman tradisional, lumbung adalah tempat penyimpanan hasil panen, dari musim panen ke musim panen berikutnya. Isi lumbung bisa berupa padi, jagung, atau hasil bumi lain yang dapat bertahan lama. Kesemuanya sengaja dipersiapkan untuk menghadapi masa paceklik. Dalam pemahaman itu pula, sesuatu yang disimpan di dalam lumbung adalah sesuatu yang bersifat berkelanjutan (sustainable).

Akhirnya, kita mengenal pula istilah lumbung pangan. Sudah barang tentu, yang dimaksudkan adalah suatu daerah atau kawasan yang memiliki kawasan pertanian penghasil pangan dalam jumlah besar. Pengistilahan ini tentu dapat diterima mengingat lumbung pangan mengandung dua prasyarat mendasar sebagai lumbung. Penyimpanan dan berkelanjutan. Sekalipun ada kalanya terdapat kemungkinan, fungsi penyimpanan tidak berfungsi lantaran hasil panen di kawasan lumbung pangan habis didistribusikan ke daerah lain. Tapi, toh tetap berkelanjutan.

Pada gilirannya dikenal pula pula istilah lumbung energi, sebutlah sebagai sebuah penamaan baru bagi tempat eksploitasi sumber daya energi. Lumbung energi berawal dari obsesi Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), Syahrial Usman. Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono kemudian menyetujui pencanangan Sumsel sebagai Provinsi Lumbung Energi Nasional.

Sebagaimana dikutip dari harian Kompas (10 November 2004), Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, “Provinsi Sumatera Selatan akan didorong menjadi lumbung energi kelistrikan nasional. Caranya, membangun infrastruktur yang mengandalkan kekayaan sumber daya alam di wilayah tersebut, terutama gas, batu bara, dan air. Diharapkan, energi yang diperoleh dapat dioptimalkan untuk mengatasi kelangkaan pasokan energi listrik di Sumsel, di samping menyumbang energi ke wilayah lain di Sumatera dan Jawa.”

Pernyataan Presiden RI tersebut tentu mengandung sejumlah konsekuensi logis. Menurut Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), akan terjadi peningkatan laju pengerukan sumber daya energi fosil di Sumsel dan gencarnya pembangunan infrastruktur pendukungnya. Kondisi ini dapat diperkirakan bakal menimbulkan masalah di sekitar lokasi pembangunan seperti konflik lahan, alih fungsi dan masalah sosial ekonomi. Di samping itu, berdampak besar pada kelestarian lingkungan.

Tak Berkelanjutan

Lupakan sejenak tentang konsekuensi logis tadi. Sebab, persoalan yang lebih mendasar justru berada pada hal ‘teramat sepele’. Istilah!

Dari istilah saja, lumbung energi sudah keliru. Obsesi menjadi lumbung energi sama sekali tidak mengandung arti sebagai tempat penyimpanan sumber energi yang berkelanjutan. Pada tataran ide, lumbung energi hanya bermodalkan potensi minyak bumi, gas alam dana batubara, atau sering disebut sumber energi fosil. Ditambah dengan sumber energi panas bumi dan gas metan yang diperkirakan juga dikandung Sumsel.

Sumber-sumber energi tersebut tergolong sebagai sumber energi yang tak terbarui, dapat dikeruk habis. Artinya, lumbung energi bukanlah tempat penyimpanan energi yang berkelanjutan. Jadi, penamaan lumbung energi nasional tidaklah berlebihan jika dianggap sebagai jargon semata. Maknanya tidak lebih mulia ketimbang wilayah perahan energi nasional.

Memang, potensi sumber daya energi Sumsel, terhitung luar biasa. Lihat daftar berikut:

Tabel Potensi Pertambangan dan Energi Sumatera Selatan
- Batubara : 22 milyar ton (60 % cadangan nasional)
- Minyak Bumi : 512 juta barel (10 % cadangan nasional)
- Gas Alam : 7 trilyun kaki kubik (9 % cadangan nasional)
- Panas Bumi: 1.335 mega watt (masih dalam penelitian)
- Gas metan: 20 triliun kubik (masih dalam penelitian)
Dari berbagai sumber

Jumlah persedian energi tersebut didengung-dengungkan tak akan habis pakai selama 250 tahun. Fantastik! Maka perlu dieksploitasi. Padahal dapat disebut lumbung energi, seharusnya sumber-sumber energi yang dimaksud adalah sumber energi terbarukan atau dapat diperbarui. Contohnya, energi air, angin, sinar matahari, biomassa dan biogas.

Sekadar catatan, Sumsel diperkirakan memiliki cadangan tenaga air setara dengan 516 mega watt dan biomassa setara 448 juta liter minyak. Sayangnya, tidak dipersiapkan desain dan teknologi pemanfaatan sumber-sumber energi ini. Alih-alih dijadikan modal dasar pada konsep lumbung energi.

Promosi lumbung energi lebih mengedepankan sumber-sumber energi tak terbarukan. Minyak bumi, gas bumi, batubara dan panas bumi lebih menjadi modal dasar dalam mewujudkan provinsi ini sebagai Lumbung Energi. Khususnya, melalui pembangunan ketenagalistrikan dan penyediaan energi bahan bakar dan industri.

Ironi dan Komedi

Masalah kedua adalah kepada siapa konsep ini diabdikan. Kepada masyarakat atau kepada pemodal. Bagi masyarakat sumsel, lumbung energi adalah perpaduan ironi, kegetiran, dan sekaligus komedi. Persedian energi Sumsel yang didengung-dengungkan tak akan habis pakai selama 250 tahun tak menjawab kebutuhan riil masyarakat. Hingga tahun 2006, masyarakat di 726 desa atau 30 % dari jumlah desa di provinsi ini belum memiliki fasilitas listrik (Kompas, 20 februari 2006).

Desa Sinar Rambang yang sangat dekat dengan kota minyak Prabumulih salah satu contohnya. Meski di desa ini terdapat beberapa sumur minyak dan gas — yang boleh jadi diperuntukkan bagi beberapa pembangkit listrik skala besar–, jaringan listrik PLN tidak mencapai ke desa tersebut. Satu-satunya fasilitas listrik terdapat di stasiun pengumpul minyak yang dikelola perusahaan rekanan pertamina. Tak pelak masyarakat harus menyediakan listrik sendiri. Sejumlah kepala keluarga bergotong-royong membeli generator set sendiri untuk penerangan beberapa rumah.

Tak hanya kekurangan listrik, Sumsel pun tak luput dari kelangkaan bahan bakar minyak. Kelangkan minyak tanah terjadi sebagaimana di provinsi lain.

Ironisnya, di saat masyarakat mengalami kekurangan listrik maupun bahan bakar minyak, Sumsel memasok gas alam untuk pembangkit listrik di Singapura. Sebanyak 430 juta kaki kubik gas alam disalurkan melalui jaringan pipa menuju Singapura setiap harinya. Dalam waktu dekat, gas Sumsel juga akan disalurkan untuk memenuhi 60 % kebutuhan energi Jakarta dan Jawa Barat. Jumlahnya 400 hingga 600 juta kaki kubik gas setiap harinya. Ironis, memang!

Fakta tersebut berseberangan dengan pernyataan Syahrial Usman yang dikutip koran Tempo (30 november 2004). Menurutnya, bila Sumsel tidak menjadi lumbung energi, krisis energi bakal terjadi di daerah ini. Cadangan energi yang ada akan tersedot ke luar Sumsel.

So, what?! Meski demikian Pemerintah Propinsi Sumsel sudah punya jawaban untuk itu! Penyelesaian krisis listrik akan teratasi dengan dibangunnya pembangkit-pembangkit listrik di propinsi ini. Hal tersebut diharapkan terwujud jika Sumsel mendapatkan alokasi pembangkit listrik tenaga uap yang sebesar 10.000 mega watt yang dicanangkan PLN.

Apa lacur, alokasi proyek yang dinanti-nantikan memberikan jawaban lain. Gubernur Sumsel dan para pendukung lumbung energi harus gigit jari. Sebab, tak satu pun dari seluruh proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batubara untuk memenuhi 10.000 mega watt dibangun di propinsi ini. Peraturan presiden (Perpres) nomor 71 dan 72, menyebutkan pembangunan PLTU justru dibangun di propinsi yang tidak memiliki sumber energi batubara. Yaitu, tiga PLTU di Banten, dua PLTU di Jawa Barat, dua PLTU di Jawa Tengah dan tiga PLTU di Jawa Timur. Tadinya, Pemerintah Sumsel berharap dijatahi pembangit listrik 3000-4000 mega watt.

Kenyataan tersebut membuat mimpi tarif listrik murah karena diberlakukan secara regional di Sumsel, jauh panggang dari api. Pun demikian dengan mimpi mengurangi jumlah penduduk miskin maupun pengangguran.

Menggagas lumbung energi berkelanjutan

Gagasan tentang lumbung energi bukan suatu yang mustahil. Bukan sebuah utopia. mengingat potensi sumber energi alternatif (yang berkelanjutan) juga melimpah di bumi Sumsel. Sumber-sumber energi inilah yang mesti menjadi prioritas pengembangan dan pemanfaatan.

Tentu ada beberapa prasyarat untuk mewujudkan lumbung energi (sekali ini sudah dilengkapi dengan kata) berkelanjutan. Pertama dan kedua adalah ketersedian teknologi serta ketersedian manusia yang siap mengoperasikan teknologi tersebut. Prasyarat ketiga adalah ketersediaan modal.

Bila Sumsel belum mengenal teknologinya, belum pula memiliki tenaga operator yang memadai, serta belum bisa membangunnya secara swadaya dengan pendanaan yang bersumber dari pendapatan asli daerah, tunda sejenak mimpi lumbung energi. Memaksakan diri membangun pembangkit listrik dengan teknologi yang belum dikenal masyarakat lokal, dan dibangun dari utang, hanya memperparah kondisi.

Pengelolaan sumber daya alam dalam segala bidang, termasuk bidang energi, harus mengedepankan prinsip keadilan antar generasi. Sangat tidak bijak mengeksploitasi sumber energi hanya untuk kepentingan sesaat. Prinsip dasar penggunaan energi adalah ‘more you use, more you loose’, makin yang dipakai makin banyak kehilangan!

Jadi, saat ini Sumsel perlu melakukan moratorium atau jeda waktu pengerukan energi. Sembari menunggu kesiapan teknologi dan modal (yang bukan utang) untuk membangun lumbung energi berkelanjutan, tenaga lokal dikirim belajar ke tempat-tempat yang telah menguasai teknologinya. Sehingga, tenaga lokal akan terlibat penuh dalam pengelolaan sumber energi. Angka kemiskinan dan pengangguran tidak dapat diselesaikan dengan konsep basi ‘efek bergulir’ atau multiplyer effect. Pada kebanyakan kasus di sekitar industri atau pertambangan, efek bergulir yang dimasud hanya mengubah masyarakat lokal yang semula pemilik lahan menjadi buruh kasar atau pedagang kakilima.

Dengan kesiapan tersebut, ditambah dukungan politik nasional, Sumsel sebagai lumbung energi nasional adalah sesuatu yang niscaya. Bukan hanya sebuah mega-proyek yang hanya menguntungkan pemodal. Kemalasan menggagas ulang konsep lumbung energi dapat berakibat fatal. Sumber energi hanya dinikmati segelintir kelompok saja, tanpa memperbaiki tingkat kesejahteraan masyarakat Sumatera Selatan. Bahkan mungkin lebih parah. Ibarat tikus mati di lumbung energi, masyarakat sumsel miskin di lumbung energi.//
banner8.gif