Sunday, August 26, 2007

Duku [bagian terakhir]

Duku [Bagian Terakhir]
Cerita Pendek K. Usman

(Bagian sebelumnya)

Selanjutnya para sepupuhku rebutan naik pohon yang tingginya 11 sampai 20 meter itu.pohon-pohon duku memang menyulai daerah yang lembab di atas ketinggian sekitar 650 meter di atas permukaan laut.

Biasanya, usai panen dilanjutkan dengan makan bersama lesehan di tikar. Sekitar tikar ditetesi kakek dengan air tembakau supaya pacat, si lintah darat tidak mengganggu. Di dearah lembab memang banyak sekali pacat. Gigitannya menimbulkan rasa gatal. Pacat dengan rakus mengisap darah dengan moncongnya yang lunak.

Kakekku dari pihak ayah itu mewariskan sistem tentang keadilan dalam keluarga. Usai panen, tiap kepala keluarga mendapat jatah sama besarnya untuk dibawa ke rumah masing-masing. Jadi, tidak seperti orang lain, anak perempuan mendapatkan sebagian, anak laki-laki dua bagian. Bagi Kakekku, kasih sayang wajib diberikan sama besarnya kepada setiap anak, termasuk pembagian duku. Tanpa banyak bicara, tapi dengan keteladanan. Kakekku mewariskan sistem warisan dalam keluarganya, atau keturunannya.

Setelah kakek berpulang, disusul nenek, sistem itu diubah Paman Sub, Si Bungsu yang pemalas, nakal, dan rajin menikah.
Berulang kebun-kebun duku warisan Kakek-Nenek dia ijonkan kepada pedagang duku dari kota propinsi. Duku masih hijau sudah dijual. Hasil penjualannya ditilep Paman Sub. Para kakak memusuhi sampai mengutuknya. Tapi, ayah, selaku Si sulung tidak ikut-ikutan adik-adiknya mengutuk. Entah karena kutukan, entah memang nasib Paman Sub buruk, dia terserang bisul di pinggang kanan. Bisul itu memcah dan lama-lama menjadi lubang dalam yang mengeluarkan nanah. Dasar Paman Sub malas berobat, disamping ketiadaan biaya karena dia miskin di dusun, beliau meningal dalam usia muda, meninggalkan seorang anak perempuan dan dua anak laki-laki.

Apa yang ditinggalkan Paman Sub? Antara lain kedua kebun duku, yang di Laham, dan yang di seberang sugai Lematang telah dia jual. Para ahli waris Kakek-Nenek ribut. Penengah sudah tidak ada, setelah ayah berpulang dalam usia 80 tahun.

”Hai, mikirin apa, Bung Gindo?!” teriakan Mimin membuyarkan kenanganku tentang dua kebun duku warisan kakekku di dusun kelahiran.
Mimin menarik-narik jaket kulit butut kesayanganku. Jaket kulitku itu dilemparkannya ke keranjang sampah, seakan sama sialnya dengan duku Palembang palsu di keranjang sampah itu. ”Mana duku Palembang yang diinginka anak kita, hah?” lanjutnya dengan suara melengking. Tak kudengar suaranya merdu bila menyanyikan tembang-tembang Sunda.

”Masih menunggu kabar dari banyak orang,” aku tergagap menjawab. ”Usahaku sudah maksimum, Miminku cantik.” aku mencoba merayu. Tap dia merengut dan kembali ke ranjang.

Sampai hari kelahiran anak pertamaku, bayi perempuan yang kami beri nama Putri, gagal total aku mendapatkan duku Palembang. Gemetar tubuhku menunggu di luar kamar persalinan. Begitu dokter Han muncul dengan senyum ramanya, segera kutanya, apakah anak pertamaku ngiler?

”Nggak tuh,” jawab dokter Han sambil mengeleng.

Alhamdulillah, aku mengucap dalam hati, dan terus berdoa, semoga sampai Putri remaja, dan tua tidak mengeluarkan iler, sepert yang kutakutkan selama ini.[selesai]

[Cerpen ”Duku” karya ”Ayah” K. Usman ini diambil dari Kumpulan Cerpen K. Usman: Setelah Musim Jamur. Diterbitkan oleh Yayasan Romansa Jakarta (Cetakan pertama, 2001). Cerpen ini sendiri pernah dimuat di Harian Kompas, 20 Agustus 2000)



Saturday, August 25, 2007

Kilas Prabumulih #02

Rahman dan Yuri Tak Hormati Dewan
Disunting dari Sriwijaya Pos 25 Agustus 2007

PRABUMULIH - Ulah walikota (wako) dan wakil walikota (wawako) Prabumulih kemarin (24/08), betul-betul meruapdugalkan perasaan anggota DPRD Kota Prabumulih. Paling tidak bagi 80% dari 25 anggota DPRD kota ini.

Pasalnya, kemarin para anggota wakil rakyat tingkat kota ini menggelar Sidang Paripurna dengan agenda penyampaian pandangan umum fraksi terhadap Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Walikota Prabumulih 2006. Sementara pasangan wako dan wawako, Rahman Djalili dan Yuri Gagarin malah tidak datang.

Akibatnya, sidang paripurna yang sejak awal sudah dihujani interupsi tersebut terpaksa ditunda. M. Erwadi aggota Fraksi Golkar menyayangkan ketidakhadiran pucuk pimpinan pemerintahan Kota Prabumulih. Menurutnya, sikap Rahman dan Yuri memperlihatkan bahwa mereka tidak menghormati lembaga perwakilan rakyat ini.

# Gunyean dusunlaman;
DPRD saja tidak dihormati, bagaimana rakyat?

------------------------------------------

Sudah Setor Uang Tapi Tak dapat Proyek
Disunting dari Sripo 14 Agustus 2007

PRABUMULIH - Ibrahim Hamid (45), kena tipu "proyek" jual beli proyek. Didampingi penasehat hukumnya, Jhon Fitter Saiman, ia melaporkan dua nama Sut dan Suh ke Polres Prabumulih Senin (13/7).

Kepada kedua terlapor, Ibrahim sudah memberikan uang sedikitnya Rp 33 juta. Uang tersebut diberikan Ibrahim setelah Sut dan Suh menawarkan proyek PL (red. Penunjukan Langsung) di Dinas PU Prabumulih.

Proyek-proyek yang dijanjikan tersebut di antaranya, perbaikan Masjid Agung Nur Arafah Prabumulih, dan pembangunan jalan menuju Pondok Pesantren Al-Furqon di Rambang Kapak Tengah.

Ibrahim melaporkan kedua pelapor mengingat jatah proyek yang dijanjikan sejak setahun lalu, tak kunjung didapat.

------------------------------------------

Prabumulih Akan Punya Terminal Baru
Disunting dari Sripo 14 Agustus 2007

PRABUMULIH — Prabumulih akan punya terminal baru. Belum jelas kapan terminal itu akan dibangun, alih-alih berfungsi. Sebab, itu baru diputuskan dalam sebuah peraturan daerah baru.

------------------------------------------

Mutasi Pejabat Prabumulih Dinilai Tidak Propesional
Disunting dari Sumatera Ekspress 14 Agustus 2007

PRABUMULIH – Fraksi PDIP DPRD Kota Prabumulih meminta ini meminta agar Wali Kota Drs Rachman Djalili bisa menjaga stabilitas kerja PNS yang ada sekarang.

Dalam rapat paripurna dua raperda Prabumulih sehari sebelumny (13/08), Hendri Arsyad SPd. juru bicara fraksi ini mengatakan, "Kami menginginkan agar dalam penempatan posisi jabatan haruslah mengedepankan profesionalisme. Artinya, harus sesuai dengan porsi dan kemampuan yang dimilikinya.’’

Sementara itu,Fraksi DKBS (red. Sumpah! dusunlaman tidak DKBS itu singkatan dari apa?!) menyoroti realisasi APBD 2007. Sudah memasuki bulan Agustus tapi masih banyak proyek yang belum berjalan.

------------------------------------------

Friday, August 24, 2007

Prabumulih Tak Ingin Dipimpin Koruptor



Isu anti-korupsi bukan hanya marak di aras nasional. Ndilalah di kota kecil macam Prabumulih kesadaran masyarakat pada gerakan anti-korupsi juga bertumbuh. Salah satu organisasi yang terbilang serius menyerukan gerakan anti-korupsi adalah Lembaga Masyarakat Adat (LMA).

Lembaga ini bertumbuh di dusun Prabumulih dan beberapa dusun lain yang menjadi cikal kota nanas ini. Salah satu buah perjuangan LMA adalaha keberhasilan menggiring terlaksananya proses hukum atas dugaan korupsi di proyek pembangunan gedung perkantoran walikota dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prabumulih.



Ada banyak pilihan aksi yang dilakukan LMA dalam upaya membabat korupsi di Prabumulih. Beberapa di antaranya adalah aksi massa dan peningkatan kesadaran melalui media kampanye berupa spanduk, selebaran, dan lainnya.

Salah satu spanduk yang dipasang di depan bekas lapangan tenis dusun Prabumulih bertuliskan, "KAMI TAK INGIN DIPIMPIN KORUPTOR". Seruan yang terbilang amat serius, mengingat sepasang pemimpin kota Prabumulih, walikota dan wakil walikota, pernah dan sedang terseret dugaan korupsi.





Wednesday, August 22, 2007

Buah Pengimbang: Tanda Baca Aksara Surat Ulu

Sebagaimana dalam tulisan 'Membaca Surat Ulu' yang lalu, Aksara Surat Ulu mengenal tanda baca yang disebut "Buah (pe)Ngimbang". Buah ngimbang yang terdiri dari delapan pelambang ini merupakan tanda baca bantu untuk melambangkan bebunyian dari kosakata dalam bahasa Prabumulih.

Buah-buah ngimbang adalah engke, engge, ente, ende, empe, embe, enje, ence. Sebagai contoh penggunaan buah ngimbang adalah sebagai berikut:

  • Engke, pada kata: t-engka-dak (belalang sembah), b-engka-rung (bengkarung, sejenis kadal), t-engka-yap, t-engku-rup (tengkurap), s-engke-lat, t-engku-lok (kerudung).
  • Engge, pada kata: enggut (meskipun), s-ing-ge (pokoknya...), eng-gan (enggan),
  • Ente, pada kata: s-ente (larang), m-ente-ri, t-ente-ra (tentara),
  • Ende, pada kata: end-ung (ibu), endai (dari), P-endo-po (nama kota di dekat Prabumulih),
  • Empe, pada kata: empa-t, k-empang (kerupuk), empai (baru, anyar), t-empu-yak (durian yang diawetkan, digunakan sebagai lauk atau bumbu),
  • Embe, pada kata: s-embi-lan, k-ambang (sumur, perigi), s-ambil, s-emba-yang.
  • Enje, pada kata: enjo-k (beri, kasih), m-enja-ngan, b-injo-l (benjol), dan
  • Ence, pada kata: p-encak, k-ance (teman, kawan, sahabat), p-enca-rian (nafkah).


Masing-masing buah pengimbang ini bisa dilihat pada gambar dibawah ini.



Nantikan seri belajar membaca surat ulu berikutnya :-)





Sunday, August 19, 2007

Undangan Arisan Sekeluarga Prabumulih

ARISAN SEKELUARGA PRABUMULIH (ASP)

Sektretariat : Perum. Medang Lestari, Blok C 4 B 8. Medang Tangerang, Tlp. (021) 5476784



Tangerang, 16 Agustus 2007
Kepada Yth :
Warga Prabumulih
di Jabodetabek,

Dengan hormat,
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas karuniaNYA sampai saat sekarang tali silahturahmi dan kekeluargaan Prabumulih yang telah terbina tetap langgeng adanya.

Sesuai hasil kesepakatan dan penarikan arisan pada pertemuan sebelumnya ( Kel. Sudarman Tergun ), maka tuan rumah arisan berikutnya adalah keluarga Bpk. Alamuddin Tergun ( Mang Alam ) dan telah ditetapkan untuk pertemuan periode ini, Insya Allah akan di selenggarakan pada :

  • Hari / tanggal : Minggu / 2 September 2007
  • Pukul : 11.00 wib s.d. selesai
  • Tempat : Kediaman Keluarga Bpk. Alamuddin Tergun
    Jl. Bawal I No.10 Rawamangun Jakarta Timur 13220
    Telp. 021-4896692

    Acara :
    1. 1. Silaturahmi
    2. 2. Pembahasan hasil Pertemuan Sebelumnya
    3. 3. Arisan


Tiadalah harapan disertai ucapan terimakasih yang sedalam-dalamnya dari kami pengurus dan keluarga tuan rumah atas luang waktu bapak/ibu untuk berkenan hadir atas undangan pertemuan silahturahmi ini.

Demikian undangan kami, terima kasih.

Pengurus ASP,

Mat Sali
Sekretaris


Midi R Yudo
Ketua

NB:
Apabila sangat terpaksa tidak dapat menghadiri silahturahmi ini, kiranya dengan segala kerendahan hati kami mohon dapat memberitahukan kepada pengurus atau tuan rumah.













Saturday, August 18, 2007

Kilas Prabumulih #01

Kilas Prabumulih #01

Pertamina Salurkan Beasiswa
Disunting dari Sripo, 18 Agustus 2007

PRABUMULIH - Pertamina EP Region Sumatera menyerahkan beasiswa, bantuan seragam sekolah, dan kursus computer (D1) di LPMKA YKKK Prabumulih. Penyerahan dilakukan usai
Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI untuk kalangan karyawan Pertamina di Lapangan Ria Jaya, Komperta Prabumulih, Jumat (17/8).

Bantuan yang disalurkan meliputi, beasiswa untuk 17 siswa SMP dan sederajat (masing-masing menerima Rp 64 siswa SMU dan sederajat (masing-masing Rp 70.000), serta beasiswa untuk 1 orang mahasiswa Universitas Imam Muhammad Ibnu Saudi Arabia (Rp 400.000).

------------------------------

Lahan Gambut Ludes Milik PT LKK Ludes Terbakar
Disunting dari Sripo, 18 Agustus 2007

MUARA ENIM - Sekitar 90 hektare lahan gambut milik PT Laras Karya Kahuripan (LKK) di Desa Tempirai Muaraenim terbakar, Kamis pukul 23. 00(16/8). Api baru bisa dikuasai Jumat dinihari, setelah datang ratusan personel pemadam kebakaran dari PT LKK, PT Wahana Karya Kahuripan OKU Timur dan Pemkab Muaraenim Jumat dini hari.

Penyebab kebakaran belum diketahui.

------------------------------

Bupati Banyuasin Akan Cabut Izin Perusahaan Pembakar Hutan
Disunting dari Sripo, 16 Agustus 2007

BANYUASIN - Sekalipun terpantau timbul tenggelam, kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Banyuasin terus terjadi...

Wilayah rentan kebakaran hutan dan lahan di kabupaten ini dalam kondisi siaga, yakni kecamatan Banyuasin I, Rambutan, Talang Kelapa, dan Rantau Bayur. Selain itu termasuk pula wilayah perairan yang berdampingan dengan wilayah Taman Nasional Sembilang yakni, Banyuasin II, Muara Padang, Makarti Jaya dan Pulau Rimau.

Bupati Banyuasin, Ir H Amiruddin Inoed, secara tegas menjanjikan bahwa pihaknya tidak akan mentolerir aksi pembakaran hutan, baik yang tidak disengaja apalagi yang dengan nyata disengaja, semisal membakar lahan untuk areal pertanian.

Jika kebakaran terjadi akibat kegiatan perusahaan perkebunan, pihaknya akan mencabut perizinan yang diberikan.

------------------------------

Belum Rampung, Sudah Ajur
Disunting dari Sripo, 16 Agustus 2007

PRABUMULIH - Belum rampung tapi sudah rusak. Demikianlah kondisi Jalan Gunung Kemala-Payu Putat yang baru pengerasannya baru berjalan 50 persen. Jalan sepanjang 17,2 KM dan memakan biaya sebesar 32 Miliar itu sudah retak di sana-sini.

------------------------------

OI Protes Bagi Hasil Migas
Disunting dari Sripo, 15 Agustus 2007

PALEMBANG - Pemkab Ogan Ilir (OI) hanya mendapatkan pembagian hasil minyak dan gas (migas) sebesar Rp 140 miliar lebih. Padahal di wilayah ini terdapat 145 sumur minyak.

"Ini masih jauh dari aspek keadilan,” keluh Bupati OI, Ir H Mawardi Yahya di sela-sela acara peringatan Isra’ Mikraj di Gedung Serbaguna Dekranasda Jakabaring, Palembang.

------------------------------

Lagi, Sumur Tercemar Minyak
Disunting dari Sripo, 15 Agustus 2007

LAHAT - Sumur di belakang rumah Joniyansyah (31), warga Banjarsari kabupaten Lahat dirembesi minyak. Sumur sedalam 4,5 meter itu dibuat pada tahun 1999, dan tercemar minyak sejak tanggal 11 Agustus lampau.

Warna air sumur pekat bercampur minyak seperti warna kopi instan. Pihak Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah (Bapedalda) Kabupaten Lahat telah mengambil contoh air untuk diteliti.

Lokasi sumur tercemar tersebut tak jauh dari bekas sumur minyak peninggalan Belanda dan 3 sumur minyak milik PT. Pilona. Hingga berita ini diturunkan, Humas PT Pilona, Ir H. Damra Taib yang ikut mendampingi pengambilan contoh air itu tidak memberi berkomentar.

------------------------------

Syahrial Janjikan Dana Untuk Sekolah Swasta
Disunting dari Sripo, 13 Agustus 2007


PRABUMULIH - Gubernur Sumatera Selatan, Ir. Syahrial usman berjanji memberikan bantuan sebesar 25-30 juta untuk setiap Sekolah Swasta di provinsi ini. Tapi, bantuan yang akan diberikan kepada seluruh sekolah swasta se-Sumsel ini baru akan dianggarkan pada tahun 2008 mendatang.

Janji tersebut diucapkan Syahrial saat mengukuhkan kepengurusan Ikatan Keluarga (IKA) Gumay Kota Prabumulih di gedung olahraga Harmonis Prabumulih, Sabtu (11/8).

* * *Dalam catatan dusunlaman, masa jabatan Syahrial sebagai gubernur Sumatera Selatan akan berakhir per April 2008.

Sekadar tambahan, jika berminat mendapatkan daftar jadwal akhir masa tugas kepala daerah dan pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah se-Indonesia, dapat diunduh (download) di sini.

------------------------------



Mencari Prabumulih? Haa... Ada di Lampung?!

Saya belum lama ini menginstal pirantilunak (software) Google Earth. Piranti lunak hasil kembangan perusahaan Keyhole yang kemudian diakuisisi oleh Google ini, merupakan layanan virtual untuk menjelajahi peta dunia.

Pada intinya, layanan ini dibangun berdasarkan citra satelit. Berdasarkan rangkaian foto/citra satelit tersebut, Google Earth dapat menyajikan foto tempat-tempat se-dunia dalam tampilan 3 dimensi.

Google Earth bisa diunduh (download) secara gratis. Proses mengunduhnya gampang. Caranya tinggal ketik Google Earth di situs pencarian Google. Lalu instal di komputer anda!

Jika sudah diinstal, kita seolah bisa keliling dunia. Begitu dibuka, program ini menyajikan sebuah gambar bola bumi 3 dimensi yang bisa diputar-putar serta bisa diterawang (zoom) untuk memperbesar dan memperkecil tampilan.

Yang pertama saya cari ketika memakai program ini adalah kampung halaman saya. Ya, Prabumulih. Prabumulih itu di Sumatera Selatan, kan? Pastinya, iya!

Nah, dengan Google Earth, tempat yang ingin kita kunjungi secara virtual bisa dicari dengan cara manual yaitu memutar bola bumi serta menerawang gambar. Cara yang lebih praktis adalah dengan mengetik nama tempat misalkan Prabumulih pada kolom fly to yang ada di pojok kiri atas tampilan.

Selanjutnya, biarkan Google Earth mencarikannya sembari kita merokok atau menyeruput kopi. Mungkin malah tak sempat. Karena proses ini tak banyak makan waktu.

Ketika saya mencari Prabumulih, ternyata Prabumulih itu ada di Lampung, hahahaha... Dan sayangnya, tampilannya pun belum rinci.



Berbeda dengan misalnya kita mencari kota-kota besar, misalkan Palembang, Jakarta, atau Banda Aceh. Gambar yang ditampilkan akan lebih jelas dan rinci.

Thursday, August 16, 2007

Dirgahayu ke-62 Republik Indonesia

Dirgahayu ke-62 Indonesia!!!

Selamat menonton lomba panjat pinang, ikut manjat juga boleh.
Lomba makan kerupuk pun boleh, itung-itung menghemat pengeluaran untuk membeli 'gorengan' karena harga minyak goreng mahal. Selamat juga bagi warga Prabumulih yang meramaikan maupun sekadar nonton karnaval kemerdekaan di jalan raya.

Selamat juga untuk yang ikut upacara bendera hari ini. Jangan lupa pasang bendera. Di rumah kami di Prabumulih, bendera simpanan yang sudah menyokelat, mungkin belum diganti.

Selamat juga untuk pasukan pengibar bendera (masih di lapangan Prabujaya, kah?). Selamat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Terserah mau yang satu stanza, atau yang tiga stanza (kalau kuat menahan pegal) seperti video di bawah ini:



... Hiduplah Endonesa Raya! Merdeka!!!





Membaca Surat Ulu

Surat Ulu adalah aksara lama yang dikenal oleh masyarakat adat Rambang. Meski surat ulu sudah tidak lagi populer di masyarakat adat yang berdomisili di Prabumulih, tapi dusunlaman mencoba mendokumentasikannya dalam seri belajar surat ulu. Untuk lebih jelasnya bisa dibuka di rubrik ”indigenous knowledge”.

Aksara (alfabet) dalam Surat Ulu, memiliki 19 huruf. Teknik membacanya, berbeda dengan teknik membaca dalam aksara latin. Aksara latin bisa menggunakan satu huruf untuk menimbulkan bunyi pada kata yang dimulai dengan huruf vokal, a, i, u, e, dan o. Selain itu, haruslah menggunakan penggabungan dua huruf atau lebih untuk menimbulkan bunyi. Misalnya untuk menuliskan kata ”padi” menggunakan aksara latin, diperlukan empat huruf. Yakni: p, a, d, dan i.

Sedangkan dengan menggunakan surat ulu hanya memerlukan dua huruf: ”pe” dan ”de”. Bagaimana kedua huruf ini bisa merangkai bunyi ”pa” dan bunyi ”di”, adalah dengan memanfaatkan tanda baca. Demikian juga untuk mematikan bunyi. Misalnya pada kata ”padam”. Padam ditulis dengan dua huruf ”pe” dan ”de” yang ditutup dengan huruf ”Me” yang dimatikan dengan tanda baca. Tanda baca itu akan mematikan huruf ”Me” sehingga menimbulkan bunyi ”M”, seperti jika kita mengeja ”Mmm”.

Secara lengkap, tanda baca yang digunakan untuk merangkai kata dengan aksara surat ulu adalah sebagai berikut:

Kejina (dua titik di kanan bawah huruf)
Berbunyi: A

Ketileng (titik di kiri bawah huruf)
Berbunyi: I

Kebuntut (titik di kanan bawah)
Berbunyi: U

* (?) (satu titik di kiri huruf, dua titik di kanan huruf)
Berbunyi: é
Seperti bunyi e pada kata Bebek

** (?) (tiga titik –-membentuk segitiga dengan alas di atas—di kanan bawah huruf)
Berbunyi: O

Kelawan (titik di kanan atas huruf)
Berbunyi: AI

Kemincak (tiga titik di kanan atas huruf)
Berbunyi: AK

Kepintal (lingkaran/bulatan di kiri atas huruf)
Berbunyi: AL

Ketikam (lingkaran/bulatan di bawah huruf)
Berbunyi: AM

Due di pucuk (dua titik di kanan atas huruf)
Berbunyi: AN

Kebulat (titik tepat di atas huruf)
Berbunyi: AT

* * * (?) (empat titik di kanan bawah huruf)
Berbunyi: AU

Ketulang (titik di samping kiri huruf)
Berbunyi: NG

Ketulis (koma di kanan atas huruf)
Berbunyi: S

Kejunjung (setengah lingkaran hadap atas -- huruf U latin -- di atas huruf)
Berbunyi: AR/UR
Ketulap (setengah lingkaran hadap atas-- huruf U latin, di kiri bawah huruf)
Berbunyi: AP

Selain tanda-tanda baca tersebut, aksara surat ulu juga memiliki 8 hurup pengimbang (buah ngimbang). Buah ngimbang digunakan untuk mengatasi kesulitan pembacaan jika huruf E bertemu dengan huruf mati. Kedelapan buah ngimbang tersebut adalah: engke, engge, ente, ende, empe, embe, enje, ence.

Contoh penggunaan buah ngimbang:
Engke, pada kata: t-engka-dak, b-engka-rung, t-engka-yap, t-engku-rup, s-engke-lat, t-engku-lok.
Engge, pada kata: enggut, s-ing-ge, enggan
Ente, pada kata: s-ente, m-ente-ri, t-enta-du.
Ende, pada kata: endung, endai, pendopo.
Empe, pada kata: empat, k-empang, empai, t-empu-yak.
Embe, pada kata: s-embi-lan, k-ambang, s-ambil, s-emba-yang.
Enje, pada kata: ng-enjok, m-enja-ngan, b-injo-l.
Ence, pada kata: p-encak, k-ance, p-enca-rian.

Aksara: Surat Ulu

Ditengarai kebudayaan Prabumulih [suku rambang] adalah kebudayaan tua. Salah satu alat buktinya adalah adanya aksara. Aksara yang disebut Surat Ulu ini, menurut antropolog asal Prabumulih, Yulius Hendra, diduga adalah aksara Melayu Tua.



Aksara ini memiliki 19 huruf dengan bunyi K, G, Ng, T, D, N, P, B, M, C, J, Ny, S, R, L, Y, W, H, E. Deratan huruf ini jika dieja menjadi, Ke, Ge, Nge, Te, De, Ne, Pe, Be, Me, Ce, Je, Nye, Se, Re, Le, Ye, We, He, E. Untuk menuliskan bunyi yang tidak berakhiran E, aksara ini dilengkapi dengan tanda baca.

Ke depan dusunlaman akan menyajikannya satu persatu sebagai sarana belajar surat ulu bersama.

[tulisan ini pernah dipublikasikan melalui blog lama dusunlaman]




Wednesday, August 15, 2007

Tentang Surat Ulu

Rubrik "Sosok" di halaman 16 Harian Kompas hari ini (Rabu, 15 Agustus 2007), menampilkan Ahmad Bastari (sebagai) Pelestari Surat Ulu.

Blog lama Dusunlaman sudah sejak dua tahun lalu menayangkan beberapa tulisan tentang aksara kuno yang hidup di tanah Sumatera Selatan ini.

Mulai dari pengenalan aksara, hingga cara membacanya. Seandainya berminat, silakan buka halaman ini.




Ragam Bahasa Sumatera Selatan

"Apa kabar, Wong kito galo?" sambut beberapa teman tatkala saya bertemu mereka, entah di Bogor, entah di Jakarta.

Kalau sedang nyinyir, saya sambut sapaan itu dengan, "Bukan wong kito galo. Saya bukan orang Palembang. Saya kan orang Prabumulih, jadi wang (kadang; uhang) kite gale!"

Lho, beda?

Terang saja berbeda. berpanjang-panjanglah saya jelaskan ada banyak sekali ragam bahasa (daerah) yang hidup di tanah Sumatera Selatan (Sumsel). Bahasa Palembang, hanya salah satunya. Ada bahasa Ogan, Komering, Musi, Lematang, dan lain sebagainya.

Berapa banyak?

Sampai di sini, saya 'terpaksa' membual. Saya sebut sembarang angka, 385 bahasa daerah. Itu belum termasuk logat.

Sebenarnya, saya tidak tahu berapa persisnya jumlah bahasa (dearah)di Sumsel. Tapi angka tiga ratus delapan puluh lima jadi lekat dan kerap saya sebut dalam banyak kesempatan. Atau, barangkali memang belum ada yang telah melakukan penghitungan terhadap hal ini. Boleh jadi, Prof. Amran Halim, mantan Rektor Universitas Sriwijaya yang ahli bahasa itu sudah meneliti dan mengetahui jumlah bahasa daerah di Sumsel.

Namun yang pasti, meski hasil bualan, belum pernah ada yang membantah angka yang sembarang saya sebut itu. Padahal bukan angka cantik :-D []




Saturday, August 11, 2007

Picasa: Software Olah Foto Yang Saya Suka

Bagi yang suka fotografi dan olah foto (re-touch) saat ini tersedia banyak piranti lunak (software) olah foto. Mulai dari yang harus beli hingga software gratisan.

Saya biasa memakai keduanya, Adobe Photoshop (seri 7.0 dan CS2)
serta Picasa.



Hasilnya bisa dilihat di My Jpret (my Slide) yang ada di halaman depan blog ini, atau di flickr.

Belakangan saya lebih suka menggunakan picasa karena software ini berkapasitas kecil, jadi tidak memakan banyak tempat di hardisk komputer kita. Selain itu software ini mudah digunakan.



Piranti olah foto digital gratisan ini bisa dicari di mesin pencarian google. Selanjutnya tinggal menginstalnya ke komputer anda.

Nah, Selamat mengolah foto.






Friday, August 10, 2007

Gerakan Masyarakat Sipil Prabumulih

Oleh: Syam Asinar Radjam

Ada yang menarik jika menengok perkembangan masyarakat sipil di kota Prabumulih, Sumatra Selatan. Terutama, akhir-akhir ini. Masyarakat Prabumulih telah membuktikan bahwa rakyat memiliki kekuatan: suara rakyat.

Tengok saja apa yang telah dicapai oleh para pedagang di Pasar Inpres Prabumulih. Perjuangan mereka menolak rencana pembangunan pusat perbelanjaan (Prabumulih Mal) yang akan dibangun di depan pasar tempat mereka berdagang, berhasil. Walikota Prabumulih Rachman Djalili, yang baru beberapa hari kembali bertugas, setelah sempat dinonaktifkan dari jabatannya terkait dugaan korupsi, menyetujui lokasi pembangunan mal dipindahkan ke tempat lain.

Perlu disadari, dipindahkannya lokasi Prabumulih Mal tersebut bukanlah hasil perjuangan pejabat pemerintah kota. Melainkan hasil perjuangan pedagang sebagai komponen masyarakat sipil di kota Prabumulih. Masyarakat atau rakyatlah aktor utama dalam kasus ini. Suara rakyatlah yang menjadi kekuatan utama.


Menengok satu tahun ke belakang, suara rakyat Prabumulih juga telah berhasil mengusung isu tata ruang dan korupsi di kota Prabumulih. Isu ini dimotori oleh Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Prabumulih yang belakangan disusul oleh berbagai elemen lainnya, bahkan elemen mahasiswa di Palembang.

Gerakan ini membuat kasus penggelembungan dana proyek pembangunan gedung perkantoran Pemerintah Kota Prabumulih yang berlokasi Desa Pangkul mencuat ke permukaan. Pada gilirannya, proses hukum terhadap sejumlah pejabat yang ditengarai terlibat dalam tindak pidana korupsi pada proyek tersebut dilangsungkan.

Salah satu pejabat yang sempat menjalani proses hukum atas kasus ini adalah Walikota Prabumulih, Rachman Djalili. Pada gilirannya, Rahman sempat dinonaktifkan selama 1 tahun dari jabatannya.

Rahman, yang menjabat ketua dalam proyek bernuansa korup ini memang dinyatakan tidak bersalah oleh pengadilan. Bawahannya, Sulaiman Kobil sang Pimpinan Proyek sekaligus Kasubag Pemerintah Pemkot Prabumulih, dinyatakan bersalah serta harus menjalani hukuman 4 tahun bui.

Barangkali masih tersisa pertanyaan bagaimana mungkin seorang yang hanya ‘bawahan’ dapat ‘bermain’ tanpa keterlibatan pejabat yang berwenang di atasnya. Namun yang lebih penting, sekali lagi suara rakyat Prabumulih telah membuktikan kekuatannya.

Mundur ke masa yang lebih lampau, suara rakyat Prabumulih pernah merebut kemenangan bagi “hak atas lingkungan hidup”. Setelah, selama kurun waktu setengah abad Sungai Kelekar menjadi tempat pembuangan limbah aktivitas pengeboran minyak Pertamina di Prabumulih.

Pada tahun 2000, masyarakat Prabumulih melakukan serangkaian aksi meminta pertanggungjawaban Pertamina untuk menghentikan pencemaran Sungai Kelekar. Didampingi sejumlah organisasi lingkungan baik lokal, regional, nasional, ditambah dukungan sejumlah organisasi lingkungan internasional, masyarakat Prabumulih berhasil membuat Pertamina bertekuk lutut dan mengakui kesalahannya.

Hasilnya, selain menghentikan pembuangan limbah cair ke sungai Kelekar, Pertamina juga menyetujui beberapa tuntutan masyarakat. Di antaranya, rehabilitasi sungai, penghijauan di sepanjang DAS kelekar, bahkan pemberian beasiswa, pembangunan sejumlah fasilitas umum, dan serta beberapa ‘kemenangan kecil’ lainnya.

Organisasi lingkungan di tingkat lokal yang mendampingi masyarakat Prabumulih kala itu adalah Solidaritas Peduli Lingkungan Prabumulih (SPLP). Organisasi ini telah dibubarkan setahun sejak tuntutan masyarakat dipenuhi Pertamina. Organisasi di tingkat regional di antaranya, Yayasan IMPALM, WALHI Sumatera Selatan, dan LBH Palembang. Sementara di tingkat nasional dan internasional, kasus ini mendapat dukungan dari sejumlah organisasi di antaranya, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Friends of the Earth, Mining Advocacy Network, dll.

Dengan tanpa menihilkan peran organisasi-organisasi tersebut, kemenangan masyarakat Prabumulih dalam kasus Sungai Kelekar juga merupakan bukti kekuatan suara rakyat.

Selain 3 contoh kasus di atas, masih ada serangkaian bukti lain yang memperlihatkan bahwa suara rakyat adalah kekuatan utama di Prabumulih.

Dalam banyak kasus perburuhan, ketenagakerjaan, gerakan buruh menorehkan keberhasilan tersendiri. Walaupun belum sampai pada tingkatan yang luar biasa, misalnya mendorong terbitnya peraturan daerah yang melindungi hak-hak buruh di Prabumulih, aksi-aksi buruh yang didampingi oleh Serikat Buruh Bersatu Prabumulih (SBBP), berhasil memperjuangkan kasus-kasus pemutusan hubungan kerja dan hak-hak normatif, serta pelanggaran dalam hal pengupahan.

Di sisi lain, suara rakyat Prabumulih juga pernah berhasil mencatatkan proses penerimaan calon pegawai negeri sipil yang jujur sebagai persoalan penting. Isu ini diusung oleh Mulan Komunitas pada tahun 2005. Mulan Komunitas juga turut andil dalam gerakan pendidikan pemilih menjelang Pemilu 2004.

Barangkali masih banyak lagi gerakan-gerakan masyarakat sipil di Kota Prabumulih yang belum terekam dalam tulisan singkat ini.

Potensi atau Ancaman?
Gerakan masyarakat sipil yang bermunculan di Prabumulih sebenarnya mencerminkan adanya inisatif warga kota Prabumulih untuk berpartisipasi membangun kotanya. Berarti, ini sama sekali bukan berarti ancaman. Pemerintah Kota Prabumulih harus melihatnya sebagai potensi.

Komponen-komponen masyarakat sipil perlu dilibatkan dalam proses pembangunan. Pelibatan mereka ditampung dalam sebuah proses fasilitasi agar inisiatif dan kehendak mereka dapat diakomodasi, disalurkan, dan dimanfaatkan demi kemaslahatan bersama. Fasilitasi di sini sama sekali tidak berarti pemberian fasilititas atau pemberian ‘proyek-proyek’. Tetapi berarti memberikan tempat atau ruang agar ‘suara-suara’ yang didengungkan beragam komponen masyarakat sipil menjadi sumbangsih dalam pembangunan. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi terhadap program pembangunan yang dilakukan pemerintah kota.

Kemana Gerakan Masyarakat Sipil Prabumulih Semestinya Bermuara?
Disadari atau tidak, suara rakyat yang bergema dari beragam gerakan masyarakat sipil di kota Prabumulih, diincar oleh banyak pihak. Terutama, tentu saja, menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang akan berlangsung tak sampai satu tahun lagi.

Komponen masyarakat sipil, sesegera mungkin harus menyadari potensinya. Ia harus mampu mengambil tempat dan berpartisipasi dalam pembangunan. Sekali lagi, partisipasi disini bukan berarti ‘meminta proyek’ dari pemerintah kota atau dari pihak yang didukung.

Partisipasi berarti mengambil ruang untuk terlibat dalam perencanaan anggaran, penyusunan peraturan-peraturan daerah, mupun melakukan kritik membangun dan evaluasi terhadap pencapaian pembangunan yang sedang atau pun telah dilakukan oleh pemerintah kota.

Momentum terdekat untuk menguji apakah pemerintah kota memberikan ruang partisipasi bagi masyarakat Prabumulih adalah menjelang berakhirnya masa jabatan walikota dan wakil walikota Prabumulih. Komponen masyarakat sipil Prabumulih sedianya sudah mulai mengumpulkan catatan kegagalan dan catatan keberhasilan pasangan pemimpin kota ini dalam 5 tahun masa jabatannya sebagai bahan evaluasi.

Di samping itu, komponen masyarakat sipil Prabumulih mesti mawas diri terhadap tindak-tanduk para kandidat yang akan muncul dalam pertarungan PILKADA. Jangan sampai dimanfaatkan untuk kepentingan sesaat. Komponen masyarakat sipil dapat mengambil peran dalam pendidikan pemilih (voter education). Maksudnya, memberikan pendidikan kepada masyarakat kota Prabumulih sehingga memiliki kesadaran kritis dalam memilih calon walikota maupun calon wakil walikota yang akan datang.

Salah satu yang dapat menjadi sasaran pendidikan adalah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menolak jual-beli suara atau politik uang (money politic), sebagaimana ditengarai marak pada proses Pemilu Legislatif 2004. Masyarakat harus disadarkan bahwa suara yang mereka berikan lebih mahal ketimbang satu karung beras ‘Cap Rangkong’.

Monday, August 6, 2007

Turnamen Gasing Tradisional Prabumulih 2007

Sanaks,

Mulan Komunitas Prabumulih kembali bersiap menyelenggarakan Turnamen/Kejuaraan Gasing se-Kota Prabumulih. Pergelaran budaya yang telah menjadi kalender tahunan Mulan komunitas ini direncanakan berlangsung 17-18 Oktober 2007, bertempat di bekas lapangan tenis dusun Prabumulih.

"Seharusnya, sesuai kalender musim tradisisional, permainan gasing diramaikan sekitar musim pembakaran ladang atau yang biasa disebut penunuan ume," tutur Hendratno Roi, salah satu panitia inti Turnamen Gasing Prabumulih 2007 kepada dusunlaman.

Tapi mengingat musim penunua terlalu dekat dengan bulan puasa, Mulan Komunitas menunda penyelenggaraannya hingga seusai lebaran idul fitri.

"Jadi, udeh riaye, jangan lupe nyubok uhang ngadu gasing. Bedindang atau bepangkahan." lanjut Hendra dalam bahasa Prabumulih yang berarti "Jadi, usai hari raya (idul fitri), jangan lupa menonton orang mengadu gasing. Bedindang (adu lama putaran) atau pangkahan (mengadu badan gasing).

Sayang sekali dusunlaman tidak mempunyai satu pun dokumentasi berupa gambar atau video turnamen-turnamen gasing sebelumnya. Semoga teman-teman Mulan Komunitas dapat berbagi dokumentasi kepada dusunlaman di kemudian hari.

Dari hasil 'berayau' di situs youtube, dusunlaman menemukan sejumlah video permainan gasing di beberapa tempat. baik dari Indonesia maupun Malaysia. Di antaranya sebagai berikut:

Permainan gasing di Kelantan, Malaysia



Permainan gasing raksasa di Bangka Belitung





Anak-anak main gasing

Sunday, August 5, 2007

Duku [Bagian 4]

Duku [Bagian 4]
Cerita Pendek K. Usman

Sebelumnya

Alhamdulillah, walaupun lagi ngambek, Mimin mau salat Subuh berjamaah denganku. Ia menciumku seusai kami berdoa khusyuk. Susu hangat dan roti selai nanas disiapkannya di meja makan. Setelah itu, dia naik ke ranjang dan tersedu-sedu. Aku jadi serba salah.

Mumpung masih pagi, harga pulsa belum mahal, kuhubungi saudara dan kawan-kawan dekat. Terakhir kutelepon Bunda di Prabumulih. Aku minta dicarikan duku Palembang. Kalau ada buah duku salah musim, atau buah sela, tolong segera kirim dengan titipan kilat ke Jakarta. Semua orang yang kutelepon tertawa terbahak-bahak, mengejekku.

”Mana ada duku Palembang di musim begini, Bung Gindo, ha ha ha,” kata Ir. Tama sahabatku yang bertugas di kabupaten Muara Enim, salah satu daerah yang banyak memiliki kebun duku rakyat.

Rakhmani, S.H., seorang hakim di Palembang, teman dekatnya di SMA dulu, yang seperti saudara setelah dia menikah dengan seorang perwira menengah TNI Angkatan Laut, pun terkekeh-kekeh. Mas Arifin, suaminya, ikut ngomong, dan terbahak-bahak. ”Dik Gindo lagi mimpi setelah usai salat Subuh, yo?” tanya Mas Arifin. Nggak ada duku Palembang. Musim orang lomba ngomong kan sekarang? Bukan musim duku, Dik.”

Adik-adikku di Prabumulih, salah satu pasar di kota tambang minyak, juga menyerah. Mereka bilang, buah salah musim pun tak tampak di pasar. Kota mana lagi yang harus kuacak-acak lewat telepon di pagi begini? Halimi di Martapura, wong suku Komering, staf hubungan masyarakat kukontak. Dia adalah seniorku waktu kuliah di Perguruan Tingi Publisistik. Abang Hal ini sudah seperti kakak bagiku. Gila! Dia lagi ’bobo-bobo pagi’ dengan Kak Syamsiah seusai salat Subuh.

”Kau ini ada-ada saja, Dik Gindo, ha ha ha, tahu nggak abangmu lagi subuk dengan Kakakmu. Ada apa? Duku Palembang? Istrimu pasti lagi ngidam, ya? Benar. Martapura memang ‘lumbung’ duku kalau lagi musim, dik. Tapi, sekarang kosong. Tapi, nanti aku cari, ya. Salam dulu buat binimu, tu.”

“Maafkan aku, Bang. Sampaikan pada Kak Syam, teruskan ’bobo-bobo pagi—nya,” kataku sambil menahan tawa. Tawa suami-istri itu sempat kudengar di telepon.

Terakhir kutelepon Bunda. Beliau masih berzikir di atas sajadah sejak usai shalat Subuh. Lembut dan membelai suaranya. Hati jadi sejuk. Sejak Ayah berpulang lima tahun silam, Bunda makin khusuk shalat, berdoa, dan zikir.

”Sayangku, Sulungku,” sambutnya, ”di mana Bunda harus mencari obat ngiler itu? Lagi tidak musim duku Palembang sekarang, Nak. Ya, Bunda akan cari sambil mengerahkan adik-adik, ipar-ipar, dan kemenakanmu yang kini sudah 35 jumlahnya itu. Bagaimana Mimin, menantuku? Bunda doakan, dia sehat-sehat selalu, ya?”

Bunda mencemaskan bila cucu pertama dari si sulungnya ngiler. Kata Bunda, ngiler sampai dewasa termasuk aib bagi keluarga, bukti ketidakmampuan orang tua, atau semacam kemalasan berusaha. Aib bagi keluarga? Aku bertanya setelah meletakkan gagang telepon. Kubayangkan putra-atau putriku ngiler sampai remaja. Kemana-mana dia membawa tisu atau saputangan untuk menadahi ilernya yang meleleh ke dagu. Benar juga kata Bunda, kalau betul-betul itu terjadi. Itu aib bagi keluarga. Tapi kalau duku Palembang memang sedang tidak musim, mau apa?

Semasa aku kecil, bila musim duku di kebun Laham, atau di seberang sungai Lematang, Kakek Muk memanggil anak-cucu untuk panen duku bersama. Pernah sekali, aku naik sebatang duku. Tiba di atas, kuguncang sebuah dahan yang lebat duku berwarna kuning keabuan. Maka runtuhlah ratusan duku. Berdebuk-debuk bunyi di atas daun-daun yang membusuk dan lebat karena lamanya. Orang tuaku, kakek, nenek, paman, bibi, semua sepupuhku heboh. Mereka bilang, cara panen duku seperti yang kulakukan itu salah besar. Buah duku akan pecah atau memar. Lalu, Paman Sub, anak kakek yang bungsu memberi contoh. Ia naik sambil membawa karung goni dan keranjang rotan yang diberi tali panjang. Setelah kedua tempat itui penuh oleh duku, dia turunkan perlahan-lahan disambut riuh-rendah anak-anak.

Saturday, August 4, 2007

Tentang Kelamin, Kemaluan, dan Barang Berekor yang Jahat

Oleh : Pulung Amoria Kencana

Mohon jangan terburu nafsu dan menjadi salah paham. Anda barangkali akan segera tersenyum simpul atau mungkin terpancing untuk bersumpah serapah demi membaca judul yang telah saya sajikan di atas sana.

Busyet, dah ini orang... Bikin judul ato judul, yak?! Ha ha! Sesungguhnya sayalah yang pertama kali terkaget-kaget mendengar kata-kata di atas berseliweran bebas di dalam percakapan anggota keluarga "baru" saya, keluarga calon suami saya yang kebetulan adalah seorang asli Prabumulih.

Waktu itu, sepertinya kami, saya dan pacar saya (sekarang suami) sedang bersiap untuk berangkat pergi dari rumah kami di Prabusari, Prabumulih, menuju ke suatu tempat entah kemana, saya lupa. Tiba-tiba seorang tua (barangkali paman, saya juga lupa) berteriak kira-kira begini, bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia: "Hei, hendak kemana itu dua kelamin?"

?". Saya terpukau. Takjub dengan apa yang baru saja saya dengar. Antara merasa bingung dan hendak tertawa geli, saya memandangi pacar saya itu... minta penjelasan! Anda tentu bisa membayangkan rasanya mendengar kata "dua kelamin" yang diucapkan dengan santai sebagai sebutan untuk dua orang lain yang sedang berjalan bersama, bagi seorang yang bukan asli Prabumulih!

Dengan tertawa-tawa, akhirnya saya mendengarkan penjelasan tentang pemakaian kata kelamin untuk kata penunjuk satuan jumlah orang yang biasanya sepasang! Kenapa kelamin? tanya saya takjub. Padahal jawabannya sungguh sederhana: Itulah
bahasa! dan ini Bahasa Melayu, lho... artinya jangan-jangan malah inilah aslinya cikal-bakal Bahasa Indonesia. Kenapa kelamin? Kenapa enggak?

Belum selesai rasa geli saya ketika pada kesempatan yang lain saya mendengar sebuah kalimat lucu yang lain. Pada telinga saya yang awam kira-kira bunyinya begini: :"Apa nggak
kemaluan itu orang pake baju model begitu"... Ha ha ha! Kemaluan! O... kata-kata itu...

Saya ngakak! Sungguh ngakak mendengarnya. Ini memang bahasa khusus (barangkali)
Prabumulih. Dan akhirnya saya sungguh menikmati belanja telinga saya yang mendapatkan cara penggunaan kata seperti 'kelamin' dan 'kemaluan' yang tidak diucapkan dalam konteks tabu atau negatif. Sesuatu yang bukan sedang memaki atau bahkan bukan juga sedang membicarakan tentang "alat kelamin" yang biasa kita sebut dengan "kemaluan".

Selanjutnya, saya mendengar calon kakak ipar saya waktu itu sedang menghitungi berapa jumlah piring rusak setelah dipakai dalam acara makan-makan saat lebaran: "Ini
jahat... Ini juga jahat... Ini nggak... Ini bagus... Coba itu berapa ikok (ekor) yang jahat?" Hah? Piring jahat? Ada berapa ekor? Huahahaha.....

Lengkaplah sudah belanjaan
Bahasa Prabumulih saya. "Kelamin" dan "kemaluan" yang bebas bergentayangan, dan barang-barang ber"ekor" yang bertampang "jahat". Ha ha ha.

Ini adalah oleh-oleh paling menarik yang bisa saya bawa pulang ke Jakarta. Oleh-oleh yang masih bisa menerbitkan tawa kami berdua (saya dan mantan pacar saya itu/ sekarang suami).
Saya masih menunggu waktu untuk bisa pulang lagi ke
Prabumulih, kampung suami saya itu, dan belanja banyak istilah dan kebiasaan unik yang bisa memperkaya kita semua.

Sekarang saya anggota
'Darmawanita Prabumulih'... Artinya perempuan non-Prabumulih yang menikah dengan penduduk asli Prabumulih, dan saya selalu menikmati bebunyian dari mulut suami yang sedang bertelepon dengan kerabat dan handai-tolan sekampungnya.

Apa artinya? Kau tadi cerita apa? Itu pertanyaan saya selalu.[...]

LeBul, 4 Agustus 2007
Catatan Seorang Perempuan Pejalan Yang Menikah dengan Seorang Asli Prabumulih

Thursday, August 2, 2007

Hasil SPMB Unsri

Barangkali ada di antara saudara atau keponakan Anda yang mengikuti SELEKSI PENERIMAAN MAHASISWA BARU (SPMB) dengan pilihan Universitas Sriwijaya (Unsri), Palembang.

Nah, jika ada yang ingin mengetahui hasilnya, hari ini pengumuman hasil SPMB Universitas Sriwijaya dapat dilihat di harian Umum Sriwijaya Pos (4 Halaman; 4, 6, 7, 9).

[]